Jingga Matahari Part. 2

“Tar, lo ikut gue,” sebuah tangan menarik tangan Tari dengan cengkraman yang kuat, tangan itu menariknya menjauh meninggalkan kelasnya dan Fio yang sedari tadi sedang ngobrol asik dengan Tari.

Fio bingung melihat kejadian itu, seragam yang membalut tubuh lelaki itu jelaslah milik Ari dan Fio tau bila sudah berhadapan dengan Ari, Fio tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berdoa agar Tari kembali dengan selamat.

Tari digiring menuruni tangga dari lantai dua, tubuh Tari disentakkan kasar namun sangat hati-hati ke dinding di bawah tangga oleh cowok itu. Cengkraman tangan itu terasa asing melingkar ditangan Tari, tatapan matanya pun juga berbeda jadi dia tahu siapa cowok yang berada di depannya ini, walau dengan seragam sekolah penampilan mereka berdua sama tapi sorot mata yang mereka pancarkan sangatlah berbeda di depan Tari.

Tangan Ata mengunci tubuh gadis di depannya dengan tatapan tajam dan sangat tidak terbaca apa yang sebenarnya ingin Ata lakukan. Tari jadi mengingat kata-kata Ata tempo hari.

“Gue bener-bener minta maaf,” bisiknya dengan nada sesal. “Tapi apapun yang gue lakukan ke elo nanti, kalau bisa gue perlunak, akan gue perlunak. Juga kalau bisa gue hindari, akan gue hindari. Tapi kalau nggak…” Sepasang bola mata sepekat jelaga itu menerjap lambat. “Tolong lo inget, gue bener-bener terpaksa.”

Apakah harus sekarang? Tanya Tari dalam hati.

“Tar..” kata itu keluar dengan suara lirih dari cowok yang sedang tertunduk lesu di depannya. Wajah Tari semakin bingung dengan apa yang akan Ata lakukan.

*****

“Serius lo Tar? Ka Ata bilang gitu?” suara Fio hampir terdengar kesepenjuru kelas untung sekarang jam istirahat jadi hanya beberapa siswa yang masih tetap di kelas.

“Nggak percaya kan lo, Fi? Gue aja masih ngga percaya sama kejadian kemarin, apalagi lo Fi,” Tari membenamkan mukanya ke tas yang ada di atas mejanya. Kepala dia serasa hampir pecah dan meledak karena terlalu penuh dengan masalah yang terus berdatangan.

Fio mengerti sekarang kejadian yang akan Tari alami akan lebih parah lagi dibanding kejadian-kejadian sebelumnya, apalagi sekarang masalahnya bukan hanya satu tapi juga bayangan dari masalah itu pun akan menjadi masalah terberat dan terbesar yang akan dialami teman sebangkunya itu, Fio hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Tari dan melakukan apa yang bisa dia lakukan untuk Tari.

Tari bingung apa yang harus dia lakukan sekarang, kata-kata Ata kemarin telah membuatnya tidak bisa tidur semalaman, bahkan saat jam pelajaran pertama sampai saat bunyi bel istirahat tadi konsentrasinya pergi jauh dari dirinya tanpa dia tahu kemana perginya konsentrasi itu.

Kini Tari terlihat kacau, teman-teman sekelasnya heran dengan keadaan Tari sekarang, yang mereka tahu penyebabnya pasti berhubungan dengan kejadian saat Tari ditarik paksa oleh seseorang yang mereka sangka adalah Ari.

*****

Ari berjalan cepat menyusuri koridor sekolah menuju kelas Tari, diikuti oleh Ridho dan Oji di belakangnya. Ari baru saja mendapatkan info penting yang dari tadi dia ingin ketahui, jadi setelah info itu sampai ditelingannya dia tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja.

Pintu kelas yang tadinya tertutup mendadak mengeluarkan dentuman yang keras, pintu itu terbuka karna satu senggolan kaki Ari yang lumayan keras. Bukan hanya Fio yang terkejut mendengar dan melihat apa yang ada di depannya itu, Tari yang sedari tadi membenamkan wajahnya kedalam kedua tangannya pun ikut menaikan wajahnya.

Ari menghampiri Tari cepat, dia menunduk dan mengankat wajah Tari dengan kedua tangannya, “Lo kenapa? Bilang jujur sama gue sekarang!! Apa yang sudah Ata lakuin ke lo kemarin?” pertanyaan itu tanpa henti mengalir dari mulut Ari.

Ari pun akhirnya mendapat jawaban penyebab diamnya Tari dari semalam dan tadi pagi saat Ari menjemput Tari kerumahnya, suara Tari tak terdengar meskipun omongan Ari yang Ari yakini dapat membuat Tari kesal ia luncurkan tetap saja Tari tak bergeming, dan sekarang Ari mengetahui penyebabnya berkat telvon dari Nyoman yang sempat mendengar pembicaraan Tari dan Fio sedikit di kelas, dan kini dia tahu penyebabnya adalah seorang lelaki yang pernah berbagi rahim dengannya selama Sembilan bulan.

Kemarin Ari dan kedua sahabatnya itu membolos dari sekolah, karena ada sesuatu yang Ari persiapkan, namun dia tidak menyangka Ata memanfaatkan kepergian Ari itu dengan membuat Tari seperti ini.

“Tar, bilang sama gue apa yang Ata lakuin ke lo?” bentak Ari sambil menggenggam erat wajah Tari. Tari diam seribu bahasa, mimik wajahnya pun sama sekali tidak berubah dari saat Ari sampai dikelasnya. Ari menatap Fio, hanya dia satu-satunya yang mengetahui keadaan Tari sebenarnya tapi Fio sudah berjanji pada Tari tidak akan membocorkan hal ini jadi Fio hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mata Ari mengeluarkan isyarat seolah bertanya “Apa yang sebenarnya terjadi”

“Oke, kalau lo nggak mau cerita biar gue sendiri yang akan tanya ke Ata” Ari melepaskan tangannya dari wajah Tari dan hendak meninggalkan tempat itu tapi tangan Tari menahan kepergian Ari.

“Jangan lakuin itu kalau lo bener-bener care sama gue” ucap Tari memohon.

Ari menatap dalam tatapan Tari berharap menemukan jawaban apa yang dia pertanyakan sekarang ini, namun tatapan itu gelap dan jelas tatapan itu bukanlah milik Tari yang selama ini selalu ia ganggu. Separah itukan ucapan Ata sehingga membuat wajah ceria Tari yang baru saja kembali mendadak hilang lagi, dan sepertinya Ari harus segera mengambil tindakan atas perbuatan saudara kembarnya itu.

*****

Ari menghentikan motornya di depan halaman rumah yang kini ditinggali oleh ibunya dan saudara kembarnya, Ata. Ari menatap rumah itu tanpa menarik tubuhnya untuk beranjak dari motor hitamnya itu.

Setelah mengantarkan Tari ke rumahnya dengan keadaan yang masih sama seperti dia menjemputnya tadi pagi dia ingin sekali segera menanyakan hal ini pada Ata, awalnya dia ingin menanyakannya di sekolah tapi karena dia sudah berjanji pada Tari untuk tidak membuat kekacauan di sekolah dengan Ata, entah kenapa Ari menepati janjinya itu agar Tari tidak makin sedih.

Ari turun dari motornya dan melangkah menuju pintu rumah itu, dia mengetuk pintunya. Seorang wanita dengan sorot mata yang teduh itu keluar untuk membukakan pintu.

“Ari,” ucap wanita itu ketika mendapati Ari ada di depannya, wajahnya selalu terlihat bahagia setiap dia melihat Ari ada di depannya.

“Mama,” Ari tersenyum, panggilan itu sudah terbiasa dia ucapkan sejak kejadian yang berawal dari rumah tante Lidya. Ari mengambil tangan mamanya dan mencium lembut tangan mamanya itu, dan Mama Ari selalu memegang puncak kepala Ari ketika kepala anaknya itu menunduk untuk mencium tangannya.

Mama Ari membawa Ari masuk kedalam rumahnya, seperti biasa ketika sampai di rumah itu setelah pulang sekolah Ari selalu melempar tasnya ke sofa dan membanting tubuhnya ke sofa itu. Mama Ari sudah terbiasa melihat kebiasaan anaknya yang sembilan tahun pisah darinya.

Mama Ari berjalan menuju dapur, mengambilkan segelas es teh manis yang sudah dia siapkan untuk anak-anaknya sepulang sekolah.

“Makasih, Ma,” ucap Ari ketika menerima gelas berisi es teh manis dari ibunya. Ari menegak minuman itu dengan cepat dan air di dalam gelas itu pun seketika habis hanya bersisahkan es batu didalamnya.

Mama Ari masuk kedapur, Ari berdiri mengikuti mamanya sesekali mata Ari menatap kesekeliling rumah. Mama Ari sedang menyiapkan makan siang untuk kedua putra kecilnya yang dia sendiri tidak menyangka sudah sebesar ini. Ari memeluk Mamanya dari belakang, rasa tak ingin berpisah lagi selalu menyelimutinya.

“Ma, Ata belum pulang yah?” Ari bertanya itu ketika lingkaran tangannya sudah mendekap mamanya dengan erat.

“Belum, tadi pagi dia pamit sama mama mau ke tempat lain dulu sepulang sekolah. Mungkin sebentar lagi dia pulang,” jawab Mama Ari sambil mengelus lembut puncak kepala anaknya yang kepalanya disandarkan di pundaknya.

Tok..tok..

Terdengar suara ketukkan pintu dari arah luar.

“Tuh Ata sudah pulang,” Ari melepaskan pelukannya dari ibunya, dia berjalan menuju pintu.

“Dari mana lo?” Ari langsung menyambar pertanyaan ketika pintu itu sudah dia buka lebar.

Ata tersenyum mendengar pertanyaan sambutan dari kembarannya itu. Ari mencari arti senyuman itu di wajah Ata.

Ternyata waktu Sembilan tahun semakin menjauhkan kita, sampai arti senyumannya aja gue nggak bisa nangkep, Ari membatin.

Ata melewati Ari yang berdiri di depan pintu dengan cepat dan dia langsung masuk ke kamarnya sambil meninggalkan Ari yang masih menerka-nerka senyuman yang Ata lemparkan padanya.

*****

Ari mengajak Ata ke lapangan basket kompleks yang tidak jauh dari rumah kontrakkan ibunya dan Ata. Dengan seragam sekolah Ari men-dribel bola basket di tangannya dengan cepat dan melakukkan three point. Bola itu pun langsung berpindah tangan ke Ata, permainan bakset Ata tak kalah baiknya dengan permainan Ari.

“Langsung aja deh lo mau ngapain ngajak gue ke sini ?” Tanya Ata sambil men-dribel bola ingin melewati Ari.

“Oh, ternyata lo makin pinter aja selama tinggal di Malang,” Ari tersenyum, dia merentangkan kedua tangannya agar Ata tak melewatinya begitu saja.

Namun dugaan Ari tidak tepat, Ata memutar tubuhnya 360 derajat untuk melewati Ari dan langsung menunjukkan gaya Slam Dunk nya, bola itupun masuk ke ring dengan lancar.

“Pasti soal Tari?” Ata mengambil alih bolanya lagi.

“Sebenernya apa sih yang lo lakuin ke Tari, sampai seharian ini dia aneh banget,” Ari berusaha mengambil alih bola yang ada di tangan Ata.

Ata melakukan Lay-up dan bola itu pun masuk ke ring dengan mulus. Poin kembali di curi oleh Ata.

“Gue Cuma kasih sedikit peringatan dan sentuhan ke hatinya ko, gak lebih,” Ata mengatakan itu setelah shoot-nya berhasil dia lakukan.

Ari pun mengambil bola itu dan menghampiri Ata, “Ta, please deh jangan berbelit-belit, lo apain dia?” Nada suara Ari mulai tinggi.

“Weits, sabar bro. Nada suara lo kaya udah berasa memiliki Tari seutuhnya aja,” Ata tetap tenang, dia mengangkat alis kananya.

“Maksud lo?” tatapan Ari kini tidak bersahabat lagi.

Ata mengambil bola di tangan Ari dan berlari menuju ring basket dan melakukan shooting.

“Tari itu bukan milik lo, jadi jangan merasa memilikinya, lagian tuh cewek menyandang nama gue jadi itu urusan gue” Ata pergi meninggalkan Ari yang masih tidak mengerti dengan kata-kata yang Ata lontarkan.
Bola memantul ke arah Ari, Ari langsung menangkapnya dengan sigap tanpa mengalihkan tatapan matanya dari punggung Ata yang semakin menjauh.

Sial!!

Ari memantulkan keras bola basket itu ke lantai, bola itu memantul tak beraturan dan Ari pun meremas rambutnya dengan kesal.

*****

xoxo,

About these ads

1 Comment

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s