My Imagination · Uncategorized

Mencoba Untuk Bersyukur

Pernahkah kamu membayangkan tidak bisa mendengar tiupan angin saat angin sedang berhembus kencang menerpa wajahmu? Atau bahkan suara hujan yang jatuh tepat di depan matamu?
Jawabannya pasti tidak pernah.
Yah, sama seperti apa yang aku rasakan sekarang.
Aku, Dara . Aku tidak pernah membayangkan bahwa dalam hitungan detik, aku bisa kehilangan pendengaranku. Begitu cepat. Memang. Namun itulah yang terjadi.
Semua berawal dari sebuah kecelakaan motor yang ku kendarai. Aku gadis berumur 17 tahun. Aku mendengar pertengkaran kedua orang tuaku di kamar mereka. Aku mengin-tip dari ambang pintu melihat ibuku menangis saat ayah melontarkan kata-kata kasarnya.
“Dasar pelacur! Apa kau akan membuat anakmu itu sepeti dirimu juga? Hah!!” teriak ayah di wajah ibu. Kata-kata itu sungguh keterlaluan, namun hampir setiap hari ayah me-lontarkan itu semua di hadapan wajah ibu. Barang-barang dibanting dengan saat keras.


Selalu seperti itu. Ayahku tidak habis-habisnya menyiksa ibuku. Sejak ayah di PHK dia selalu saja lepas kontrol dan membuat ibuku menangis dan terluka. Berulang kali ku melerai, berulangkali juga aku melakukan sesuatu yang ku bisa. Namun sekarang, aku tidak sanggup melihat hal ini untuk ke sekian kalinya. Air mataku terjatuh, aku sudah tidak tahan lagi dan aku memutuskan untuk berlari menuju mo-torku yang biasa aku parkirkan di depan rumah.
Aku mengeluarkan motorku dari situ, aku mengendarai kendaraan kecil itu tak tentu arah. Aku tidak bisa berpikir jernih, yang aku inginkan adalah satu menjauh dari semua per-tengkarang yang mereka lakukan.
Air mataku menggenang di pelupuk mata membuatku memandang buram melihat ja-lanan. Sampai akhirnya, dengan mata yang masih basah aku mengarahkan stir motorku ke kanan, saat ingin berbelok, sebuah mobil menghantam motor yang aku kendarai dengan keras dan cukup membuatku terpental jauh kebelakang. Aku merasakan ada sesuatu yang menghantam bagian belakang kepalaku dan membuat kepalaku berdenyut nyeri.
Dan saat itu, aku tidak sadarkan diri. Disitulah awal aku memulai kehidupan baruku yang seperti sekarang. Sedih, kecewa, memalukan dan cukup tragis.

© © © ©

Hari Pertama
Saat membuka mata, aku mencium aroma obat di sekelilingku. Mataku melihat seke-liling ruangan dimana aku berada sekarang, ada infusan yang menggantung di sebuah besi, dimana besi itu ditancapkan di sela tempat tidur yang kini aku tempati. Saat itu aku sangat yakin, bahwa aku berada di rumah sakit, karena aku mulai mengingat kejadian terakhir se-belum aku membuka mata di dalam ruangan yang steril ini.
Aku melihat ibuku berjalan ke arahku. Wajah itu sangat lusuh dan berantakkan, aku melihatnya dengan mata nanarku. Dia pasti sangat lelah dan sedih melihat aku terbaring di kasur rumah sakit. Aku sedih melihatnya menangis lagi. Bukan karena ayahku tapi karena aku.
Raut lusuhnya berubah karena melihat wajahku, senyum mengembang di bibirnya dan membuat bibir itu bergerak-gerak terus. Aku tersenyum melihat cara ibuku meluapkan rasa kebahagiannya. Walau cukup aneh, namun aku menyukai cara dia menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara. Kamu tahu, itu begitu lucu dilihat.
Namun, beberapa detik senyumku memudar saat raut wajah ibuku mulai panik. Aku memicingkan mata ke arahnya, namun ibuku tidak berkata apa-apa. Dia pergi meninggal-kanku dan membuatku mengikuti langkahnya. Namun ada yang aneh, aku tidak mendengar suara langkah sepatu yang terbuat dari kayu seperti bakiak itu. Langkah kaki ibu saat me-ninggalkanku tidak mengeluarkan suara seperti biasanya. Hal itu membuatku sedikit berpi-kir. Dari tadi aku juga tidak mendengarkan suara apapun.
Kulihat seorang dokter dan suster berlari ke arahku, disusul ibu yang ada di bela-kangnya. Dokter itu segera memegang tanganku, memeriksa denyut nadiku.
“Dokter, apakah di ruangan ini tidak ada suara?” tanyaku getir pada dokter yang ma-sih memeriksaku. Dokter itu menggerak-gerakkan tangannya tepat di hadapan wajahku, membuatku memicing heran. Seketika aku tersentak heran, aku tidak bisa mendengar sua-raku juga. Sebenarnya apa yang terjadi denganku.
“Ibu!” aku berusaha berteriak memanggilnya, agar aku bisa memastikan bahwa aku bisa mendengar suaraku sendiri. Namun kenyataannya aku tetap tidak mendengar apapun, terlebih lagi suaraku. Ibuku menerobos dokter dan suster untuk berada di hadapanku. Ibuku mengelus lembut keningku sambil meneteskan air mata.
“Ibu, ada apa denganku?” tanyaku kalut, memastikan apa yang terjadi sebenarnya denganku. Namun tak satu suara pun keluar dari mulutnya, aku hanya melihat bibirnya ber-gerak tapi tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Hatiku mencelos, pasti ada yang salah dengan diriku. Aku menatap tajam sorot ma-tanya yang kini mengunci mataku juga.
“Kenapa aku tidak mendengar apapun?” jeritku lirih. Tidak ada yang menjawab per-tanyaan mudahku itu. Aku menggeleng kuat, menepis semua pikiran yang berkecamuk di kepalaku.
“Ibu, katakan sesuatu padaku!!! Aku ingin mendengar suara ibu!!” teriakku lagi.
Tangis deras keluar dari mata ibuku yang baru saja digeser oleh dokter untuk menjauh dariku. Aku juga merasakan air mataku mengalir dan jatuh ke telingaku. Aku mulai berteriak kerasa dan histeris dengan apa yang aku alami saat ini. Telingaku tidak bisa men-dengar apapun. Apapun.
Dokter mencoba menenangkanku, diikuti juga suster yang ada di sampingnya, mereka berdua memegangi tanganku, namun aku terus memberontak. Aku tidak terima dengan perlakuan ini. Pendengaranku hilang begitu saja.
Itu tidak mungkin.
Tidak mungkin aku mengalami hal seburuk ini. Mataku mulai berat saat sebuah jarum menusuk lenganku. Perlahan mataku tertutup, aku harap saat bangun nanti aku bisa kembali keadaan semula dan melupakan mimpi buruk yang aku alami saat ini.

 

© © © ©

Bulan Pertama
Mimpi buruk.
Aku selalu menganggap apa yang aku alami ini adalah sebuah mimpi buruk. Di setiap pagi aku selalu berteriak dan memecahkan gelas yang selalu ada di meja samping tempat tidurku untuk memastikan bahwa aku sebenarnya masih bisa mendengar.
Namun lihat apa yang terjadi seperti sekarang ini, aku sudah memecahkan gelas, menggedor-gedor kaca jendela dan melempar semua barang-barang di kamarku yang ter-buat dari kaca, tapi hasilnya NIHIL!
Aku tidak mendengar suara apapun yang timbul dari benda-benda yang aku lempar itu. Hal itu membuat aku semakin frustasi. Kulihat ibu datang memasuki kamarku, me-nyambarku untuk datang ke pelukannya, tapi aku tidak mau dipeluk, aku tidak mau apapun kecuali mendengar sebuah suara dari telingaku.
Ibuku terus berusaha memelukku meskipun aku memberontak kasar dan memukuli tubuhnya, namun pelukan yang dia berikan semakin erat. Air mataku semakin deras menga-lir saat itu juga. Aku tidak tahu harus melakukan apa dengan keadaanku yang seperti seka-rang.
Hidup aku hancur seketika akibat kecelakaan itu dan membuatku kehilangan penden-garanku yang mungkin akan selamanya sampai aku tutup usia nanti. Aku bersyukur telah selamat dala kecelakaan itu, tapi untuk apa aku hidup kalau kejadiannya seperti ini. Aku tidak bisa mendengar sedikit pun. Bahkan untuk mendengar suaraku sendiripun aku tidak bisa. Apa itu yang dinamakan hidup?

 

© © © ©

Tahun Pertama
Aku duduk di langkan jendela sambil bersenandung pelan, memperhatikan padang bunga di hadapanku yang diterpa matahari sore. Angin yang meniupkan bau pinus dari pe-gunungan menambah kesan damai yang kurasakan.
Yah, damai.
Sangat damai, karena aku tidak mendengar suara apapun di sekitarku. Suara angin yang kini menerpa wajahku, bahkan suaraku sendiri yang selalu menemaniku setiap hari tidak bisa ku dengar.
Hari ini adalah satu dari sedikit hari-hari damai yang bisa kurasakan. Hari dimana aku hanya bisa melihat dan merasakan kesejukan dan ketenangan saat berdiam diri seperti ini. Hal itu sangat menyenangkan, namun saat aku berhadapan dengan orang lain dan tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan membuat hatiku mencelos. Aku hanya bisa mengeta-hui seseorang berbicara apa saat aku melihat gerakan mulut orang itu.
Sangat sulit untuk bisa menerima sebuah keadaan yang hanya aku sendiri yang bisa mengalaminya. Berat, sulit. Aku sendiri bahkan tidak bisa mendefinisikan rasanya bagai-mana.
Kehampaan dan kematian. Hal itulah yang aku rasakan sejak aku tidak bisa lagi men-dengar suara-suara yang ada di sekelilingku. Aku tidak bermaksud mendramatisir, namun begitulah keadaannya.
Aku mulai lelah, Aku memutuskan turun dari jendela dan melangkah menuju pintu kamarku. Aku berjalan ke dapur sambil sesekali melihat disekeliling rumahku mencari ibu yang biasanya selalu ada di rumah.
Saat aku ada di ambang pintu dapur aku melihat ibu dan ayahku sedang terlibat kon-flik pembicaraan. Aku melihat sorot mata kemarahan dari mata ayah yang kini sedang me-natap ibu. Aku juga bisa melihat ibu yang sangat kuar berbicara sampai otot lehernya me-negang keras saat menggerakkan bibirnya.
Air mataku jatuh saat ayah melempar gelas yang tak jauh dari jangkauannya ke arah ibu. Ini bukan kali pertama aku melihatnya. Aku sering melihat dan bahkan mendengar per-tengkaran mereka setiap hari sebelum aku kehilangan pendengaranku seperti sekarang ini.
Ku lihat ayah berjalan pergi meninggalkan ibu sambil menggerak-gerakkan bibirnya dengan cepat seperti meluapkan semua kemarahannya. Ibu yang masih ada di tempat itu menjatuhkan tubuhnya di bawah meja dapur dan aku melihat air mata mengalir dari mata indahnya.
Aku tidak tega melihat keadaan itu sekarang. Aku juga ikut menangis merasakan hal yang ibu alami. Namun ada hal aneh yang melingkupi diriku, aku seperti merasa lega den-gan apa yang aku rasakan sekarang. Aku merasa lega karena tidak mendengar pertengkaran yang mereka berdua alami.

 

Aku menjatuhkan tubuhku di samping pintu dapur. Aku menangis sejadi-jadinya me-lihat keadaan ibuku yang sangat terpukul seperti itu. Aku tidak tega melihat keadaannya yang seperti itu, hal itu sangat mengiris hatiku. Sangat. Dan sangat!
Namun ada sesuatu yang aneh yang melingkupi diriku, aku merasa lega karena aku tidak mendengar pertengkaran mereka langsung. Yah aku sangat lega. Aku bersyukur.
Dan itu hari pertama aku bersyukur.
Bersyukur karena aku tidak bisa mendengar.

 

Thank for read,

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s