My Imagination

Valentine Kelabu

“Malam ini kamu pergi kemana, Ka ?” tanya Suci, membuyarkan lamunan Erika yang sedang asik mengaduk-aduk mie goreng yang dipesannya di kantin sekolah ini.
“Engga tau, kemarin sih Dira bilang dia mau ngasih surprise ke gue, tapi ngga tau deh soalnya sampai sekarang belum ada kabar dari dia” jawab Erika lesuh.
“Sudah lu sabar aja yah mungkin dia mau buat suasana se-perfectmungkin untuk kalian berdua” Rara menenangkan, “Ariel juga gitu ko, dia lagi sibuk nyiapin malem Valentine ini untuk kita berdua” tambahnya dengan wajah sumringah.
“Iyah, sabar yah, Ka. Mungkin apa yang Rara bilang bener jadi lo sabar yah” tabah Suci menghibur Erika yang sepertinya lesuh terus.
“Hmmm… dari pada kita mikirin pacar-pacar kita yang sedang pada nyiapin sesuatu buat acara Valentine-nan buat nanti malem, bagaimana setelah pulang sekolah kita ke mall untuk beli hadiah Valentine buat pacar kita” usul Rarra
“Setuju, ide bagus” seru Suci semangat, “Lu gmana Ka ? setuju ngga ?” tanyanya. Erika hanya tersenyum dan mengangguk tanda setuju.
Erika masih memikirkan Dira, karena seharian ini Dira tidak menghubunginya sama sekali. Erika heran dengan sikap Dira itu, karena tidak seperti biasanya dia bersikap seperti itu. Erika sampai sempat berfikir bahwa Dira sedang menkhianatinya, tapi teman-temannya segera menepis pemikiran Erika yang dangkal itu.
*****
Sepulang sekolah mereka bertiga pergi ke mall, awalnya mereka pergi ke salon yang berada dalam mall untuk memanjakan diri mereka sekaligus melepas lelah karena sudah berkutat dengan pelajaran sekolah dan juga sekalian bersiap-siap untuk malam Valentine ini.
“ukh asik yah memanjakan diri disalon seperti ini” ucap Rarra keasikan karena kepalanya sedang di pijat.
“iyah yah, kita sebagai wanita harus bisa memanjakan diri kita seperti ini” tambah Suci.
“yah ini memang cukup membuatku melupakan semua pemikiran burukku tentang Dira” ucap Erika tersenyum
Mereka nampaknya sangat asik memanjakan diri mereka dengan berbagai macam pilihan perawatan disalon ternama tersebut. Rarra dan Erika yang asik di creambath, dan Suci yang asik melakukan perawatan terhadap kuku-kukunya. Semua itu sangat pas dilakukan oleh para wanita seperti mereka.
Setelah selesai memanjakan diri mereka, Rarra, Erika dan Suci keluar salon dan berkeliling mall untuk mencari kado yang cocok untuk pacar-pacar mereka.
“Ka, kayanya ini cocok deh buat Dira” komentar Rarra ketika di melihat jam tangan untuk cowok yang indah dan sangat cocok untuk kado Valentine.
Erika menghampiri Rarra, “mba coba lihat yang ini !” pinta Erika menunjuk agar pelayan toko itu mengambilkan jam tangan yang Rarra maksud.
“iya mba” jawab sang pelayan dan segera mengambilkannya, “nih mba” pelayan itu memberikan jam tangannya sambil tersenyum ramah, “itu jam model terbaru loh mba, dan karena bulan ini adalah bulan kasih sayang toko kami memberikan diskon 50% untuk jam tangan itu” tambah pelayan itu.
Erika tersenyum simpul, “apa kamu yakin ini cocok untuk Dira ?” Tanya Erika agar sahabat-sahabatnya itu memberikan masukan.
“aku yakin ini cocok banget buat dia” komentar Rarra
“iya loh Ka ini bagus banget, coba kalu gue belum beliin Arman dompet pasti udah gue beli tu jam apalagi harganya lagi di diskon 50%” tambah Suci
Erika tersenyum manis, memang dari mereka bertiga hanya Erika yang beum mendapatkan apa-apa padahal mereka sudah keliling mall seharian.
“iya udah mba saya ambil jam tangan ini” jawab Erika dan segera membayarnya ketika pelayan toko itu sudah membungkuskan jam itu ke dalam kotak.
Mereka pun berjalan kembali mencari sesuatu lagi, “gimana kalu kita beli coklat, rasanya ngga cocok deh Valentine tanpa coklat” usul Suci
Mereka semua mengangguk setuja dan segera menuju penjual coklat yang ada di mall itu. Mereka berpencar memilih coklat yang cocok untuk mereka berikan kepada pasangan mereka masing-masing. Setelah selesai memilih dan membayar semua coklat yang mereka beli mereka keluar dari toko coklat itu.
“akhirnya selesai juga, kita makan yuk aku laper nih” seru Rarra kecapean
Suci memandang kesekeliling mall, lalu tiba-tiba dia kaget karena melihat seseorang yang dia kenal dan sehaian mereka bertiga bicarakan ada di sebuah toko perhiasan di seberang toko coklat yang mereka kunjungi tadi. Di mencolek tangan Rarra yang berada disampingnya, Rarra pun menoleh kea rah yang Suci tujukkan, sikap Rarra sama kagetnya dengan sikap Suci.
“ehhmmm… ka, kita pulang aja yuk !” ajak Rarra segera memalingkan wajah Erika agar dia tidak menoleh kea rang toko perhiasan tadi.
“kenapa sih kalian ?” tanya Erika heran, “bukannya tadi kalian bilang mau makan dulu” Erika masih belum mau beranjak dari tempat itu.
“kita udah kenyang” jawab Suci sekenanya.
“yah tapiaku laper” keluh Erika, “kalian kenapa sih kaya ada yang disembunyiin dari aku” Erika curiga, dia langsung membalikan badannya, dan matanya tertuju pada suatu tempat di mana Dira dan seorang cewe yang tak dikenal Erika sedang asik di toko perhiasan.
Air mata Erika mengalir sedikit demi sedikit, dia menghampiri toko perhiasan itu dan berdiri di belakang Dira dan cewek itu sedangkan kedua sahabatnya mengekor dibelakang.
“Dira” sapa Erika lirih
Dira membalikan badannya dan melihat kaget karena Erika berdiri di depannya, Dira mengeluarkan senyum manisnya.
“sayang, kamu ngapain kesini ?” tanya Dira tersenyum, “terus kenapa kamu nangis” tanyanya lagi ketika melihat mata dan pipi Erika yang sudah basah.
“kamu ………” Erika menggantungkan kata-katanya lalu berbalik lari sambil menangis.
“dia kenapa ?” tanya Dira kea rah Rarra dan Suci
Rarra menggeleng pelan, “Dir,, lu tega yah !!” ucap Rarra marah dan segera berlari menyusul Erika dan Suci mengikut dibelakang.
“kenapa sih ?” tanya Dira tak mengerti pada cewek yang berada disampingnya.
“sepertinya dia cemburu dan marah melihat kita berdua” usul cewek itu.
“massa sih ?” Dira ngga yakin, “biasanya Erika selalu mengerti kug apalagi kamu ini kan sepupu aku, Reina” Dira tersenyum dan langsung membalikan badannya dan memilih lagi kalung yang hendak dia beli.
Dira berfikir Erika hanyalah salah paham sedikit, tapi nanti malem juga dia bakal tahu kalau Dira mempersiapkan ini semua untuknya. Walaupun Erika beranggapan lain dengan apa yang sudah dia lihat.
*****
Malamnya Dira menunggu Erika di sebuah restoran yang sudah Dira pesan khusus untuk merayakan malam Valentine ini bersama Erika. Dia juga sudah menyiapkan kado khusus untuk Erika, tapi sudah hampir dua jam Dira menunggu Erika tapi Erika belum dating juga. Karena sudah begitu lama menunggu, dia menekan beberapa nomer di handphonenya.
“nomer yang ada tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan silahkan coba beberapa saat lagi” terdengar suara operator telepon diseberang sana.
Dira terlihat sangat gelisah, sebenarnya ada apa dengan Erika, tanyanya dalam hati. Padahal sebelumnya Dira sudah mengirim sms kepada Erika. Dia pun segera mengecek laporan terkirim pesan.

Sayang, aku tunggu kamu di restoran ‘pelangi’ yah..
jam 7 tepat…
Dandan yang cantik yah, sayang…!!!!
C U sayang…
Love you…J

Delivered to : My Life

Laporan smsnya sudah terkirim, tapi Dira heran kenapa Erika belum juga datang sampai sekarang, ada apa dengannya saat ini, Dira bertanya-tanya, dia pun memencet lagi beberapa nomor. Terdengar nada ‘tutt’ dari seberang sana.
“hallo” serunya
“iya, dengan kediaman keluarga Brata, ada yang bisa saya bantu”
“hallo bi, ini Dira ada Erikanya ngga bi?” tanya Dira pada pembantu dirumah Erika itu.
“oh mas Dira, sebentar yah saya lihat dulu” jawab bi minah
Lama sekali tak mendengar suara apapun diseberang telepon sana, mungkin bi minah sedang memanggilkan Erika di kamarnya, piker Dira.
“maaf menunggu lama, mas” terdengar suara bi minah yang lesu disana
“gimana bi?”
“mba Erika ngga mau ngomong sama mas Dira” jawabnya
“tolong bi, kasihin teleponnya ke Erika, saya mau ngomong sama dia, dari tadi dia ngga mau angkat telepon dari saya” Dira memohon
“tapi mas…”
Belum sempat bi Minah melanjutkan kata-katanya Erika sudah menyambar gagang telepon dari tangan bi minah.
“ada apa lagi si lu ?” bentak Erika, tidak biasanyaErika memanggil Dira dengan sebutan ‘lu’, “udah deh jangan ganggu gue lagi”
“Ka, kamu kenapa sih” tanya Dira heran
“masih tanya kenapa lagi, lu masih belum nyadarin kesalahann lu ?” bentak Erika lagi
“kesalahan apa ? apa salahku ama kamu, sayang ?” Tanya Dira ngga mengerti
“udah deh lu ngga usah panggil gue dengan sebutan sayng-sayang lagi, basi tau ngga !!” seru Erika mih bernada marah
“sumpah deh, Ka. aku ngga mengerti dengan sikap kamu ini”
“udah deh kamu ngga usah ngelak, mending kamu pikirin tu cewe yang kamu ajak tadi siang” bentak Erika lagi
“cewe ? ya ampun, Ka. Kamu salah paham dengan Reina” Dira tersenyum karena baru menyadari arah pembicaraan Erika.
“ngga usah sebut namanya, aku ngga mau dengar dan aku ngga peduli” seru Erika
“sayang, dia itu…..” belum sempat Dira menjelaskannya Erika sudah memutuskan sambungan teleponnya dengan Dira
“tutt..tutt..tutt”
Dira kesal, dan segera menuju parkiran untuk mengambil mobilnya dan menancap gas menuju rumah Erika.
Dijalan Dira terus mencoba maenelpon Erika, tapi tak ada respon sama sekali darinya. Namun Dira tak menyerah karena dia tahu ini salahnya dan sebisa mungkin Erika harus mengetahuinya. Setelah belasan kali dia mencoba menelpon Erika akhirnya Erikan menjawab telponnya.
“ada apa lagi sih” bentak Erika diseberang sana
“sayang tolong dengerin aku dulu, please” Dira memohon sambil menyetir dan berusaha agar tetap konsentrasi dengan keadaan jalan yang sangat padat kendaraan
“ngga ada yang perlu kita bicarain lagi, mulai sekarang kita PUTUS” bentak Erika dan memutuskan sambungan telponnya lagi
“SHIITT..” Dira memukul setir mobilnya kalut, dia pun langsung menghubungi salah satu nomor di handphonenya, tapi karena teruru-buru dan belum sempat menaruh handphone-nya itu di telinganya handphone itu jatuh ke bawah.
“haloo” terdengar suara wanita dari telepon yang jatuh itu, Dira berusaha mengambil handphone-nya sambil mendungkukan kepalannya kebawah dan tangannya masih memegang setir mobil. Dia segera mengambilhandphone-nya itu, setelah dia bisa mengambil handphone itu dia segera menaruhnya di telinga. Namun di depannya ada seorang wanita tua yang sedang menyebrang jadi dia berusaha agar tidak menabrak orang itu, tapi mobil itu oleng dan….
“BRAK…” Dira banting stir.
“Dira.. Dir..” terdengar suara seorang wanita dari arahhandphone-nya.
*****
Erika sadar dari pingsannya, sudah dua kali dia terjatuh pingsan karena mendengar kematian Dira, yah kecelakaan tadi malam mempuat Dira meninggal dunia. Erika masih sangat kaget dengan hal itu, dia selalu menyalahkan dirinya sendiri karena menurut dia semua itu ngga bakal terjadi kalau Erika ngga egois, pikirnya.
Erika sangat merasa bersalah dan sangat terpukul, dia menangis tanpa henti dikamarnya. Mamanya berada setia mendampinginya disampig tempat tidur.
“Ma, ini semua salah Erika” Erika menangis lagi.
“Sayang, kamu ngga boleh gitu ini semua murni kecelakaan, lebih baik kamu ngga usah ikut ke pemakaman Dira yah ?” pinta mamanya berusaha mengerti keadaan anaknya itu.
“Engga ma, Erika mau ikut”
Pemakaman Dira akan berlangsung jam 10 pagi ini, Erika ngga mau kehilangn moment terakhir dia bisa melihat Dira, walaupun hati kecilnya ngga rela bahwa dia harus melihat tubuh Dira menyatu dengan tanah.
*****
Di Pemakaman
Jasad Dira sedang di tutup dengan tanah, Erika terus menangis di bahu mamanya, Dia ngga kuat melihat apa yang terjadi pada kekasihnya itu.Begitu cepatkah kau meninggalkanku, Dir. Padahal aku belum sempat mendengarkan penjelasanmu, kamu jahat!!!! apa kamu membiarkanku menyalahkan kamu dan diriku sendiri, batin Erika menangis. Erika ngga pernah nyangka bahwa dia mendapatkan hadiah Valentine seperti ini.
Para pelayat sudah pergi semua, tinggal keluarga Dira dan keluarga Erika yang masih ada disitu, mama Dira terlihat sangat sedih karena beliau baru saja kehilangan anak semata wayangnya yang pergi selama-lamanya. Erika pun masih menangis di tempat samping makam itu.
Mamanya Dira di bawa pergi oleh suaminya, disitu tinggal Erika, mama dan papanya yang slalu setia disamping Erika.
“Ka, ayo kita pulang” ajak mama
“Engga ma, Erika masih mau nemenin Dira disini, Erika mau minta penjelasan Dira ma… Hiks..Hikss” jawab Erika lirih
“Sayang..”
“Sudah ma, tinggalin Erika disini sendiri” pinta Erika.
Mama dan papa Erika pun langsung meninggalkan Erika sendirian di depan makam Dira. Erika memegang batu nisan yang bertuliskan ‘Fandi Rachman Putra Bin Pramudita Putra’ itu. Dia memandang kosong dan meremas tanah makam itu dan menghanyutkan kepalanya di tangan yang bersandar dibatu nisan.
“Ra, mana janji kamu, katanya kamu bakal jelasin smua kejadian kemarin ? mana ?” teriak Erika sambil mengeluarkan air matanya.
“Oya, aku punya hadiah valentine buat kamu, aku khusus beliin buat kamu” ucap Erika lirih sambil menaruh bungkusan kado kecil berisikan jam tangan yang dia beli kemarin di atas makam Dira.
Dia terus menangis tanpa henti di makam itu, tiba-tiba ada tangan seorang cewe yang memegang bahunya.
“Dira itu sangat mencintai kamu dengan tulus, dia selalu ingin mejadi yang terbaik buat kamu” ujarnya dan jongkok di samping Erika.
“Maksud kamu ?” Erika menghadapnya
“Iya, Dira itu sayang sama kamu, dia bahkan rela seperti ini demi kamu” tambahnya lagi
“Siapa kamu ?” tanya Erika
Erika ingat siapa cewek yang berada disampingnya itu, wanita yang dia temui di mall yang sedang bersama Dira. Namun Erika ngga mood untuk marah-marah apalagi di depan makam Dira.
“Aku ngga mau berdebat masalah kemarin” selanya sebelum Erika mulai marah, “Aku kesini cuma buat ngasih ini ke kamu” Reina memberikan rangkaian mawar berbentuk hati dan kado besar berwarna pink yang terbungkus rapih, tapi di samping-sampingnya terdapat bercak darah yang sudah kering.
Erika menerima kado itu, “Apa ini ?” tanya Erika
“Itu hadiah Valentine dari Dira” ucap cewe itu, dan dia berdiri hendak pergi, “oya, aku cuma mau bilang aku sepupunya Dira” dia pun pergi.
Erika membuka kado itu sambil menitikan air matanya, di dalamnya terdapat boneka teddy bear besar berwarna pink yang membawa hati besar bertuliskan ‘I Love U’, di bawahnya terdapat juga kotak berukuran sedang, Erika membuka kotak itu dan di dalamnya terdapat kalung yang liontinnya berbentuk hati yang bertuliskan ‘E&D’ dan di dalam liontin itu terpampang foto Dira dan dirinya, dan terakhir di paling bawah isi kotak besar itu ada sebuah surat.

Dear My Life…
Gimana suka ngga sama kadonya,
Bonekanya lucu ngga, kaya kamu kan… hehehhe…
Terus gimana suka sama kalungnya ? aku pesenin khusus loh
buat kamu.
Biar kamu ngga cemberut terus.
Hehheh..
Aku bela-belain seharian ngga telpon nd ngga ngasih kabar kamu
Soalnya aku mau ngasih surprise ke kamu.
Untung ada Reina, sepupuku yang bantuin aku cari kado ini
Karena menurut aku selera cewek pasti sama..
Kamu jangan sedih gitu donk..
Tersenyum …J
Oya, maaf yah tadi aku suruh buka kamu dirumah.
Maksudnya setelah kamu terima kado ini kamu bisa langsung telpon aku dan dateng buat peluk aku.
Hehhehe…

Tangis Erika pun pecah setelah membaca surat itu, ngga nyangka semua yang menjadi pertannyaanya terjawab sudah di surat ini.
“Hiks..hiks.. aku udah terima kado dari kamu, tapi kenapa kamu ngga bisa aku hubungi” gumam Erika sambil terus menghubungi nomor Dira yang sudah tidak atif lagi dan air matanya pun jatuh lagi, “aku mau bilang terima kasih sama kamu dan aku mau peluk kamu, Dir !! hiks..hiks..” tangis itu tidak berenti.

Thank for read,

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s