My Imagination

Lovadance

“Horee!! Kita menang!!” teriak The Monkees sambil menghentakkan tangan mereka ke atas. The Monkees adalah nama kelompok Dance yang baru saja memenangkan sebuah kompetisi besar malam ini, di Bali.

“Malam ini kita senang-senang yah, gimana kalau kita ke Musro?” usul Panca, salah satu anggota The Monkees yang mempunyai stlye diatas rata-rata dari mereka berenam.

“Mau liat orang striptis lo di sana? Mending lo liat Anika goyang, dia lebih jago soal begituan,” celah Marlo sambil mengapit leher Anika di tangannya.

“Lo mau gue tendang sampe monas, Mar?” ancam Anika sambil mengacungkan gumpalan tangannya di depan wajah Marlo.

“Sadis nih cewek,” Marlo melepaskan tangannya dari Anika dan beralih merangkul Lona yang dari tadi hanya melipat tangannya di dada.

“Ngapain lo?” Lona menatap tajam ke arah Marlo yang tiba-tiba mengalihkan tangan ke pundaknya itu. Marlo pun menciut, membuat tawa meledak dari mulut para anggota The Monkees yang be-ranggotakan enam orang itu. Panca, Anika, Dindon, Marlo, Lona dan juga Rocky yang bertindak sebagai leader.

“Udah yuk, cabut! Kita rayain di hotel aja untuk kemenangan kita hari ini” kata Rocky yang akhirnya mengeluarkan suara.

Sedikit gerutuan keluar dari beberapa dari mereka yang kurang setuju dengan usulan leader yang selalu menjaga tingkat egoisitasnya yang tinggi itu.

*****

The Monkees sudah kembali ke Jakarta, seperti biasa mereka setiap harinya selalu berkumpul di basecamp mereka yang berlantai dua itu. Ruangan yang disebut basecamp oleh mereka itu penuh den-gan tape recorder dan beberapa sound yang disusun dengan sedemikian rupa, bahkan bisa dibilang seperti tumpukan barang-barang rusak, tapi itulah style mereka.

Lona meleok-leokan tubuhnya, diiringi hentakkan musik dengan irama yang cepat. Tubuh lenturnya bergerak dengan leluasa, tangannya berkali-kali dihentakkan ke bawah, pinggul dan pundaknya ikut bergerak mengikuti irama musik yang mengalun di dalam ruangan yang jelas-jelas sudah dibuat kedap suara itu.

Rocky menatap gadis idamannya itu sambil menonton televisi di sudut ruangan. Mata cowok itu tak pernah lepas dari tubuh Lona yang meleok indah di hadapannya. Namun matanya beralih ketika tiba-tiba Lona mematikan tape recorder yang dari tadi menemani gerakan tubuh gadis itu.

“Kok berenti?” kata Dindon yang baru saja datang dengan seorang cewek yang ada di rangkulan lengannya, Anika.

“Gue capek!” Lona mengambil handuk dan menghapus keringat yang dari tadi sudah mengalir di wajahnya yang putih bersih.

“Dia geli tuh diliatin sama lo terus, Ki” ledek Dindon saat Lona sudah naik ke lantai atas. Ricky yang disindir hanya pura-pura fokus pada layar televisi 14 inchi-nya itu.

“Apaan sih!” terdengar nada kesal dari suara Ricky, namun sebenarnya hati dia sudah luluh lantah selama setahun terakhir akibat gadis yang sudah menolaknya lebih dari empat kali itu. Anika dan Dindon hanya melihat geli wajah si egoistic, Ricky.

*****

Setiap malam, jika Lona pulang ke rumah, dia selalu berjalan kaki, padahal posisi rumahnya lu-mayan jauh dari basecamp-nya itu. Malam ini dia berjalan gontai dengan rambut yang diikat tinggi-tinggi, tanktop putih dan celana kargo hitam yang melekat di tubuh gadis itu. Dia juga membawa tas kecil yang terdampar di punggungnya.

Namun dalam hitungan detik tas yang ada di punggungnya itu sudah ditarik oleh seorang preman, yang langsung berlari ketika tas itu sudah beralih ke tangannya.
“HEY!” Lona segera berlari mengejar preman itu. Gadis itu berlari cepat dengan sneakers yang menjadi alas kakinya itu, kakinya berlari tanpa lelah mengejar orang yang sudah merampas barang mi-liknya itu dengan paksa.

Lari Lona terhenti saat melihat ada seorang cowok berjaket merah menghadang preman itu. Den-gan memutar topi—yang cowok itu kenakan—ke belakang, dia mulai menghajar preman itu dengan ganas. Lona menarik napas lega saat melihat cowok itu sudah mengambil alih tas miliknya dari si preman. Tanpa pikir panjang lagi, preman itu berlari secepat mungkin menjauh dari cowok berjaket merah yang ganas itu.

Cowok itu berjalan ke arah Lona lalu menyerahkan tas hitam itu ke Lona, yang masih ngos-ngosan setelah mengejar cepat preman tidak tahu diri itu.

“Thanks!” kata Lona dengan nada yang sedikit ketus saat menerima tas miliknya itu.
Lona pun lanjut berjalan meninggalkan seorang cowok yang masih terdiam karena tindakkannya itu hanya dibalas dengan ucapan terima kasih dalam nada seperti yang dilakukan gadis itu.

“Va!” seru seseorang yang menepuk pundak cowok itu, “ngapain lo? Yuk balik! Mobilnya udah bener tuh” tambah orang itu lalu menariknya. Cowok berjaket merah itu hanya mengangguk tanpa me-lepaskan pandangannya ke arah gadis yang bayangannya masih terlihat di ujung jalan tempat gadis itu pergi.

*****

“Guys! Kemari!”

Kelima orang yang tadi masih melakukan aktifitas masing-masing segera berlari ke arah Marlo yang berteriak tadi. Mereka menatap lekat poster yang dibawa Marlo.

‘Street Dance Competition 2011’
To touch, to move, to inspire
Champion
200Million + plus Challege Thropy
(Min. 10 people/group)
On Sunday, 24 September
At Tribeca Central Park

“Kita harus ikut!” kata Dindon yang semangat melihat besarnya hadiah yang ditulis di atas poster itu.

“Harus!” tambah Anika yang tak kalah semangat, diikuti anggukan yang lainnya.
“Tapi kita kurang 4 orang,” kata Lona dengan ekspresi yang datar, namun cukup membuat teman-temannya menatap tajam ke arahnya.

“Kenapa?” tanya Lona saat tatapan kelima sahabatnya itu menghujam masuk ke matanya. Dengan cepat Lona melangkahkan kakinya mundur dan berbalik menyalakan tape recordernya dan mulai meliuk-liukan tubuhnya, sebelum kelima temannya menghabisinya saat itu juga.

*****

Kompetisi Dance semakin dekat, namun posisi kekosongan empat orang di The Monkees belum juga terisi, Rocky dan anggota lainnya bingung mencari jalan keluar dari masalah tersebut.

“Lebih baik nggak usah ikut, daripada dipaksaain,” usul Lona sambil menuangkan air ke gelas dari botol yang dia ambil dari dalam kulkas.

Marlo yang sedang berpikir keras menatap gadis jutek itu dengan tatapan kesal, “kalau lo nggak mau ikut yah udah nggak usah kasih komentar” kata Marlo ketus.

“Ya udah, siapa juga yang mau ikut kalian!” jawab Lona tidak kalau ketusnya lalu di lanjutkan dengan membanting gelas yang habis dia minum ke meja yang tak jauh dari tempat dia berdiri.

Lona berjalan keluar dengan wajah kesal, namun Rocky menarik tangan gadis itu untuk mena-hannya pergi. “Gue mohon lo tenang yah, kita butuh lo disini” kata Rocky dengan wajah nanar, kata-kata seperti itu tidak pernah ditunjukan oleh siapapun juga kecuali oleh gadis jutek di hadapannya sekarang, “please!” tambahnya saat tak ada jawaban yang keluar dari mulut gadis itu.

“Lebih baik nggak usah ikut, daripada dipaksaain” ujar Marlo, mengulang kalimat yang dilun-curkan oleh gadis jutek itu.

“Shut Up!” teriak Rocky menatap ke arah Marlo dengan tatapan membunuh, tanpa melepaskan genggaman tangannya di tangan Lona. “Lona, please!” Rocky menatap gadis itu lemah, seolah memberitahu bahwa dia lemah bila di hadapan orang yang dia cintai itu.

Lona menghentakkan tangan Rocky yang menggenggam erat tangannya, “okay, tapi gue mau ke-luar sebentar,” Lona pergi dengan wajah yang selalu sama, datar.

******

Rocky menatap layar televisi dengan tatapan kosong, Marlo duduk di jendela sambil memandang ke arah luar, sedangkan Dindon dan Anika sedang Dance bersama sambil menunjukkan kebolehannya masing-masing.

“Hallo guys, lihat siapa yang gue bawa!” teriak Panca yang datang tiba-tiba dengan wajah mere-kah dan membuat empat orang yang sedang fokus dengan keadaan masing-masing itu menoleh.

Di belakang Panca, muncul empat orang dengan style yang tidak jauh beda dari style The Mon-kees. Yah mereka juga anak street dance seperti The Monkees.

“Hai, boleh kita gabung bareng The Monkees?” seru salah satu dari mereka yang mengenakan semi jacket yang terlihat kebesaran sekali di tubuhnya. Kalimat itu membuat aktifitas The Monkees berenti dan segera melangkah ke arah calon pendatang baru di grup mereka itu.

“Kalian serius?” tanya Marlo dengan matanya yang diperbesar.

“Iya!” senyuman terukir di bibir ketiga cowok dan satu perempuan itu.

“Yey!!!” seru Anika, Rocky, Dindon dan Marlo kegirangan, karena hadiah sebesar itu sudah siap mereka rebut.

Lilly, Naka, Miko dan Vano adalah nama dari anggota baru The Monkees yang akan mengikuti Street Dance Competition 2011. Seruan kesembilan orang itu memecah keheningan yang ada di base-camp mereka itu, ajang tanya jawab dan saling bertukar informasi tentang dunia Dance pun mulai mereka lakukan.

“Eh gue keluar dulu yah, mau cari udara segar” pamit Vano pada Anika, Dindon dan Lilly yang sedang asik membicarakan tentang ajang kompetisi Dance sebelumnya.
Vano melangkah keluar, namun dia berpapasan dengan seorang gadis berkuncir kuda yang pernah dia temui beberapa minggu lalu.

“Ngapain lo disini? Kecopetan lagi?” tanya Vano pada gadis itu sambil mengangkat alisnya.

“Bukan urusan lo,” balas Lona lalu menggeser tubuh Vano dengan tangan kanannya.

Vano member jalan gadis itu dan menatap punggungnya yang melangkah masuk basecamp The Monkees. Vano masih terdiam, lalu dia membatalkan niatnya mencari udara segar, karena sepertinya udara itu sudah masuk ke dalam.

Vano mengikuti langkah Lona yang melangkah ke arah Anika. Lona terus berdecak kesal karena dia merasa diikuti oleh cowok asing itu.

“Hai Lona, dari mana lo?” seru Anika yang kini ada di hadapan Lona.

“Gue habis ngadem di supermarket depan,” jawab Lona lalu meletakkan tas hitam kecilnya di meja bulat yang membatasi Anika dan Lona, dan duduk di kursi kosong.

“Lo berdua udah saling kenal?” tanya Dindon menatap Lona dan Vano yang berdiri tepat di bela-kang Lona.

Lona yang ditanya hanya dia, dia menenggelamkan wajahnya ke meja, dia merasa lelah. Sedang-kan Vano hanya menganggat bahu.

“Hey!” Dindon mengacak-acak rambut Lona yang sudah terikat rapih.

“Hey! Lo mau mati!!!” suara Lona membuat semua anggota The Monkees menoleh kea rah te-riakan itu, termasuk juga Lilly yang sudah berpindah berkumpul dengan Miko dan yang lain.

“Sorry, Lon,” Dindon menunduk meminta maaf sebelum sang empunya rambut itu mengeluarkan taring keganasannya, sedangkan Anika yang duduk di sebelah Dindon hanya menepuk tangan cowok itu agar bersabar.

“Udah deh, gue mau pulang!” Lona menarik tasnya dan saat berbalik badannya refleks mundur, karena wajahnya hampir saja mengenai cowok yang mengikutinya dari luar tadi.

Lona mulai melemaskan tubuhnya yang tadi hampir saja terkena serangan jantung itu. Dia mena-rik napas kuat-kuat dan menghembuskan pelan, “punya otak nggak sih lo berdiri di belakang gue? Lagian lo ngapain disini? Mau buat gue mati? Hah?” hardik Lona dengan kata-kata dan tatapan tajamnya menghujam mata cowok itu tanpa ampun.

“Santai dong, mba,” balas Vano datar, gadis seperti Lona ini baru pertama kali dia temui jadi dia harus sabar dengan hardik sang empunya mulut ganas itu.

“Gue nggak bisa santai sama orang yang udah ganggu hari gue!” Lona mendorong tubuh Vano dengan pelan agar memberikannya celah untuk lewat.

Vano hendak menarik tangan Lona, namun sebuah tangan telah menggabat tangan gadis itu terle-bih dulu, Rocky.

“Mau kemana?” tanya Rocky sambil manatap wajah Lona yang sudah merah padam karna marah, “jangan pulang dulu yah, gue mau kenalin lo ke anggota The Monkees yang baru” mata Rocky tak lepas dari wajah Lona.

Tidak dipungkiri, dari semua anggota The Monkees hanya Rocky yang bisa menenangkan kemarahan gadis seperti Lona itu. Hal itu membuat Rocky yakin bahwa gadis itu menyukainya juga, namun jawaban akan pernyataan cinta Rocky selalu saja sama, karena Lona hanya menginginkan mereka ber-dua hanya bersahabat, karena sahabat tidak bisa tergantikan oleh apapun.

Lona pun mengangguk lalu mengikuti Rocky, dan Rocky mulai mengenalkan mereka satu persatu kepada Lona disambut anggukan ‘welcome’ dari gadis yang hobi mengikat rambutnya kebelakang itu. Dan saat itu juga mereka mulai menyusun semua persiapan untuk kompetisi yang berlangsung tidak sampai tiga minggu lagi itu.

*****

Seperti biasa, Lona selalu malas untuk pulang ke rumah. Dalam seminggu bisa dihitung berapa kali dia pulang ke rumahnya sendiri itu, dia tidak ingin mendengar pertengkaran kedua orang tuanya yang satiap hari menggema di rumahnya. Dan untuk kesekian kalinya Lona menghabiskan malam itu di basecamp.

Sudah seminggu The Monkees latihan di basecamp mereka itu, dan latihan untuk hari ini pun su-dah berakhir satu jam yang lalu, semua anggota bahkan sudah meninggalkan basecamp untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Berbeda dengan Lona yang sekarang masih berdiam diri di dalam basecamp. Dia mengikat tali sneakersnya dan melangkah menuju tape recorder yang tak jauh dari tempat-nya itu. Tape itu mengeluarkan hentakan-hentakkan suaranya, Lona sedikit demi sedikit menggerakkan tubuhnya mengikuti irama music yang mengalun dari tape recorder itu. Semakin malam gerakan tu-buhnya semakin lentur dan semakin menguasai setiap jengkal irama yang dikeluarkan oleh tape itu, sampai tanpa sadar seseorang sedang mengamatinya dari lantai atas.

*****

Setelah lama The Monkees berlatih Dance mereka lupa menambahkan sebuah lagu yang harus sesuai dengan gerakan yang mereka ciptakan, dan dengan usulan Marlo mereka memutuskan untuk pergi ke Mall untuk mencari lagu yang mereka cari dan juga kostum yang akan mereka pakai untuk lomba nanti.

Dengan jaket hitam dan tanktop merah dan jeans panjang hitam Lona berjalan mengikuti arah kedelapan temannya melangkah—tanpa Vano. Vano yang berjalan paling belakang mengikuti gadis berjaket hitam itu melangkah sambil meletakkan kedua tangannya kedalam saku celana dan telinga yang mendengarkan lagu dari headphonenya.

Mereka masuk ke toko CD, mendengarkan beberapa lagu yang dirasa menarik untuk mereka, namun mereka belum juga menemukan lagu yang cocok untuk gerakan yang sudah mereka susun itu.

Lona mendengarkan sebuah lagu, lagu itu usulan dari pelayan toko yang memberikan rekomen-dasinya, gadis itu sesekali menganggukan kepalanya menikmati lagu yang di dengarnya itu, lagu yang di nyanyikan oleh Eminem itu sangat indah di telinganya, namun tetap saja lagu itu belum cocok untuk digunakan untuk kompetisi nanti.

Gadis itu melepas headphone yang tadi ada di telinganya dan segera berbalik arah, namun sebuah headphone sudah bertengger di kedua telinganya. Lagu Usher dengan confession-nya mengalun di telinga Lona dengan indah membuat gadis penyuka semua lagu Usher itu, dia memejamkan matanya, menghayati setiap irama yang mengalun di lagu itu. Saat lagu itu berakhir, Lona membuka matanya, dia menemukan wajah Vano yang sedang tersenyum menatap wajahnya.

“Gue rasa lagu itu cocok untuk mengisi iringan gerakan kita yang lambat,” usul Vano sambil ter-senyum lagi ke arah Lona.

“Boleh juga, lo bisa usul ke yang lain,” saran Lona lalu melepaskan headphone yang ada di telin-ganya itu.

“Pake lagi, ada satu lagu yang harus lo denger,” tanpa penolakan pun Lona akhirnya memakai headphone itu lagi di telinganya. Lagu jenis RnB berdendang di telinga pribadinya, lagu yang belum pernah dia dengar sebelumnya itu mengalun merdu, membuat kepalanya ikut bergerak mengikuti irama.

“Suka?” tanya Vano sambil menatap mata Lona dengan lekat.

“Banget, lagu siapa itu? Gue nggak pernah denger?”

Kalimat yang keluar dari mulut Lona itu membuat Vano tenang dan bernapas lega, karena titik lemah gadis itu sudah dia temukan.

“Itu lagu gue, khusus buat lo, dan gue pake buat duet Dance kita di kompetisi nanti” jawab Vano jujur mengutarakan isi hatinya.

“Gila lo!” Lona melepaskan headphonenya dan mendorong Vano.

“Eh tunggu, tapi gue serius, gue yakin kita akan menang dengan duet nanti. Lagian gue udah usul sama yang lainnya, dan mereka setuju dengan usul gue,” Vano tidak begitu saja membuat waktunya untuk berbicara pada gadis yang sulit ditebak itu, jadi dia berusaha bicara secepat mungkin. Lona terdiam lama, “please, demi kemenangan The Monkees” suara Vano sangat terdengar lemah dan memohon, dan akhirnya disambut anggukan oleh Lona.

*****

Kompetisi Dance sudah dimulai, berbagai teriakan histeris penonton menandakkan beberapa grup sudah beraksi di atas panggung. Babak penyisihan sudah dilakukan dari jam 2 siang, dan The Monkees berhasil melewatinya dengan mulus, bahkan mereka sudah memasuki babak final yang akan berlang-sung beberapa menit lagi.

“Okay guys, kalian sudah tidak sabar bukan melihat aksi jagoan kalian menggerakan tubuhnya di lantai Dance, sekarang saatnya kita panggil Energy dan The Monkees” teriak pembawa acara yang sudah berdiri di tengah panggung, “mereka adalah dua dari yang terbaik malam ini” tambah suara itu se-hingga membuat tepuk tangan penonton yang semakin keras.

Energy dan The Monkees memasuki panggung dan saling berhadapan, dan dalam hitungan detik Energy mulai melakukan gerakan-gerakan Dance mereka, dibalas juga oleh The Monkees.

Satu persatu kedua tim itu menunjukkan kebolehannya mengolah lagu dengan gerakan tubuh me-reka. Battle diantara kedua kubu it uterus berlangsung sampai salah satu di antara mereka menyerah, namun sampai hampir 30 menit, meraka belum juga ada yang menyerah.

Sampai akhirnya The Monkees mulai mengeluarkan beberapa gerakan andalan mereka yang sudah mereka susun dari awal. Lona maju, diikuti Vano yang ada di belakangnya, mereka berdua melakukan duet Dance. Vano mengikuti setiap gerakan tubuh Lona dengan baik, sesekali dia menyanggah tubuh Lona yang mulai meliukkan tubuhnya dengan sempurna di lantai Dance itu sampai akhirnya Dance mereka di tutup dengan lompatan Lona yang menginjak pundak Vano dan salto pun berhasil dibuat Lona.

Riuh penonton semakin ramai, pembawa acara melangkah menuju panggung untuk menutup kompetisi diantara kedua master Dance malam ini itu.

“Kita akan mengetahui beberapa menit lagi pemenang dari Street Dance Competition 2011 ini, Energy ataukah The Monkees? Yey!!”

Teriakan riuh penonton menggema di dalam Central Park itu. Kedua kubu sama kuatnya membuat juri bingung memutuskan siapa pemenang dari kedua kubu itu, namun saat pembawa acara mendengar sesuatu dari telinganya itu dia mengekspresikan wajah yang tercengang, sepertinya dia sudah tahu siapa pemenang dari Dance competition tahun ini.

“Ladies and gentlemen the champion is…” pembawa acara itu member jeda bagi kalimatnya, membuat para peserta dan penonton tegang, sampai akhirnya “…The Monkees!!” tambahnya dan membuat teriakan dari semua anggota The Monkees, mereka saling berpelukan satu sama lain, dan tanpa sadar Lona segera memeluk Vano yang kebetulan ada di sebelahnya.

Vano tersenyum melihat tingkah Lona yang lepas kendali itu, diikuti dengan tatapan sinis Rocky yang berdiri jauh dari mereka berdua.

Saat sadar Lona melepaskan pelukannya itu, “maaf” katanya malu-malu, “by the way, judul lagu lo apa, Va?” tanya Lona memberanikan diri.

“LovaDance!” jawab Vano sambil menarik garis senyum di bibirnya.

“Apaan tuh?” tanya Lona bingung.

“Lona, Vano, Dance” bisik Vano, membuat wajah Lona mulai memerah karena malu dengan apa yang Vano bisikkan.

“Gombal banget lo,” Lona mulai salah tingkah.

“Biarin, bye the way, sekarang kita teman kan?” bisik Vano lagi, membuat Lona sulit bernapas detik itu juga. Hal itu membuat tawa Vano pecah melihat wajah wajah Lona memerah, Dia memeluk gadis yang berdiri di sampingnya itu dengan tangan kanannya sambil tersenyum. Mereka tertawa bersama dengan anggota The Monkees yang lain, namun ada salah satu mata yang menatapnya lirih melihat Lona tertawa lepas bersama cowok lain, dan itu bukan dirinya.

–SELESAI–

2 thoughts on “Lovadance

  1. Huh, agak nyebelin tuh ya si Lona! Walaupun dia punya alasan jd kaya gitu. Haduh kasian tuh si Rockynya, patah hati deh hehe
    tulisannya bgus, alurnya jg pas, dan tulisannya jg rapih
    keep writting!😉

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s