Fanfiction · My Imagination

Saranghae…

SARANGHAE… (사랑해)

Author : Alfi Rahmaa

Main Cast : Lee Jinki (이진키), Han Hyejin (헌혜진) (OC)

Support Cast : Key, Lee Taemin (이태민)

Length : Oneshoot

Genre : Sad, Romance, Friendship

Rating : PG-15

“Hyejin-ah… Mianhe, Hyejin-ah.. Mianhe” Lee Jinki terus memanggil nama itu dalam tidurnya membuat adiknya, Lee Taemin, panik dengan keadaan Jinki yang seperti itu.

Hyung! Bangun, Hyung!” Berkali-kali Taemin mengguncang tubuh Jinki yang tertidur pulas dengan keringat bercucuran dan air mata yang mulai keluar dari sudut-sudut mata Jinki. “Hyung, sadarlah, jangan buat aku khawatir” tangis Taemin pecah. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia tidak mengenal siapapun di kota ini karena baru kali ini dia pulang ke Korea. Dan kini dia menyesal dengan keputusannya untuk menemani hyungnya di apartemen Jinki yang sepi ini, sedangkan kedua orang tuanya harus sudah kembali lagi ke Jepang seminggu yang lalu—setelah pemakaman.

Taemin mengambil minyak angin di laci samping tempat tidur Jinki dan menggosokkannya ke lengan Jinki yang mulai dingin dan berkeringat. Dia juga memegang kening Jinki yang kini panas, sepertinya Demam. “Hyung! Sadarlah” Taemin terus terisak, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

Drrrttt~

Ponsel Jinki bergetar, seperti mendapat pertolongan Taemin pun segera meraih ponsel yang terletak di meja samping tempat tidur Jinki.

Yoboseyo” saat mendengar suara di sebrang sana akhirnya Taemin tahu bahwa penelpon itu adalah sahabat Jinki.

Hyung! Bisakah kau segera ke apartemen, Jinki-hyung terus berbicara dalam tidurnya, dia juga menangis dan sepertinya dia juga sedikit demam. Ottoke? Hiks” Taemin melihat Jinki yang tidur dengan tidak tenang—mulutnya terus bergumam dan tidurnya selalu bergerak tidak teratur, seperti orang yang mengalami mimpi buruk dan parahnya lagi, air mata yang keluar dari matanya yang terpejam semakin banyak.

Taemin mengakhiri telponnya dan meletakkan ponsel itu kembali ke meja. Dia berjalan ke dapur dan menyiapkan air es untuk mengompres hyungnya seperti saran Key—si penelpon tadi.

*****

Sudah satu jam setelah Jinki sadar kembali. Kini Jinki sedang mencoba menghabiskan bubur yang dibuat oleh Key. Namun makanan yang masuk ke dalam mulutnya tidak bisa dicerna dengan baik, indera pengecapnya itu sudah cukup pahit untuk merasakan sesuatu.

“Habiskan, hyung” Taemin terus berkata seperti itu saat jinki mulai menjauhkan bubur itu dari jangkauannya. Dan secepat kilat pun Taemin mendapat tatapan kekesalan Jinki. Namun dia tetap tidak goyah, dia ingin hyungnya segera kembali seperti dulu lagi.

“Astaga, sampai kapan kau menatap adikmu seperti itu, Jinki-ah” Key berjalan menghampiri mereka berdua—yang duduk berhadapan di meja makan—dengan membawa nampan yang berisi air putih dan obat yang sepertinya akan diminum oleh Jinki.

Jinki yang sedang mengaduk buburnya hingga terlihat seperti air itu pun jadi memalingkan wajahnya ke Key yang tiba-tiba duduk di sampingnya. “Untuk apa kamu ke sini? Aku bisa mengurus diriku sendiri” kata Jinki ketus.

“Yaa.. aku disini ingin membantumu, tapi aku malah diperlakukan dengan tidak baik” Key membuka pembungkus obatnya, “sangat tidak sopan, buka mulutmu!” perintahnya kepada Jinki membuat Jinki refleks membuka mulutnya. 2 butir obat yang tadi ada di tangan Key pun meluncur ke dalam tenggorokan Jinki yang kini sudah disiram air.

“Lebih baik kau istirahat, dan cobalah membuka dirimu” Key berjalan ke dapur dengan nampannya, “kau pikir Hyejin tidak sedih melihat dirimu yang berantakan seperti ini” tambah Key sambil mencuci tangannya.

“Jangan sebut namanya” Jinki menjauhkan buburnya dan meletakkan kedua tangannya di wajah, seolah menyembunyikan wajah itu dari semua orang.

“Aku tau Hyejin adalah segalanya bagimu, tapi kini Tuhan lebih membutuhkannya. Bersikaplah dewasa Jinki-ah” ucap Key yang kini sudah duduk di samping Jinki kembali, “sekarang fokus saja dengan dirimu dan pendidikanmu. Teman-temanmu banyak yang masih menyayangimu, Jinki-ah” tangan Key menyentuh pundak Jinki yang mulai terguncang.

Bagi seorang Lee Jinki bukanlah hal mudah untuk melupakan sosok gadis seperti Han Hyejin. Gadis yang telah menjadi temannya sejak mereka sama-sama duduk di bangku sekolah dasar. Gadis yang sudah dia cintai sejak pertama kali bertemu. Gadis yang selalu mengerti dia dan mau menerimanya apa adanya. Dan gadis yang tidak pernah dia beritahu bahwa dia sangat mencintainya.

Yah, Jinki tidak akan pernah memberitahukan apa yang dia rasakan selama ini dengan gadis itu. Bukan hanya sebagai teman, bukan hanya sahabat, tetapi dia sangat ingin menjadikan gadis itu sebagai yeojachingu-nya, namun semuanya terlambat. terlambat. sangat-sangat terlambat. Gadis yang bernama Han Hyejin itu sudah pergi. Dia pergi. Pergi tanpa tahu bahwa hati Jinki ikut serta dibawa olehnya.

*****

-flashback-

“Hyejin-ah

Seorang gadis dengan rambut yang diikat ke atas tinggi-tinggi itu menoleh ke arah sumber suara. Dia berdiri dari bangku yang biasa dia tempati itu. Matanya menangkap sosok yang sudah dia kenal selama hampir sepanjang hidupnya. Mata dan wajahnya bersinar menangkap sosok ceria yang berlari ke arahnya.

“Mian…” ucap Jinki tersengal karena habis berlari.

Hyejin tersenyum, dengan cepat dia menggandeng tangan Jinki dan berjalan meninggalkan taman yang menjadi tempatnya mereka janjian tadi.

“Kita mau pergi kemana?” tanya Hyejin disela-sela perjalanan mereka.

Jinki menoleh ke arah Hyejin sambil tersenyum, “ke tempat yang pasti akan membuatmu senang” pandangan Jinki lurus lagi. Dia menurunkan tangan Hyejin yang melingkar ditangannya dan mulai menautkan jarinya dengan jari Hyejin yang kecil. Mereka bergandengan.

Malam ini Jinki hendak menyampaikan perasaan yang dia pendam selama ini kepada Hyejin. Semua persiapannya sudah dilakukan. Mereka berdua hendak menuju cafe milik Key—sahabatnya—yang berada cukup jauh dari situ. Dia sudah dibantu oleh Key untuk membuat kenangan yang indah untuk Hyejin jadi hal ini tidak bisa dilewatkan sedetikpun. Semua harus berjalan dengan baik.

Hyejin mengikuti kemana Jinki akan membawanya. Hatinya cukup senang sekarang. Asalkan bersama namja yang ada di sebelahnya ini hatinya sudah cukup gembira. Tidak ada yang bisa menggambarkan setiap pergerakkan tubuhnya dan senyum yang mengembang di bibirnya saat berada di dekat Lee Jinki. Begitu juga dengan Jinki. Asalkan melihat wajah gadis disampingnya tersenyum hatinya selalu tenang.

Mereka berdua berjalan dengan senyum yang terus mengembang di wajah masing-masing pemiliknya. Tiba-tiba Hyejin berhenti. Dia menatap Jinki sejenak lalu menariknya untuk berbalik arah.

Wae?” Jinki bingung dengan apa yang dilakukan Hyejin. Mereka berdua berhenti tepat di depan etalase toko yang memajang manekin dengan pakaian musim panasnya.

Hyejin menatap manekin itu, Jinki mengerutkan keningnya. “Kamu menyukai baju itu?” tanya Jinki menunjuk ke arah baju yang dikenakan patung yang ada di hadapannya.

Hyejin menggeleng. Itu membuat Jinki semakin bingung dan menatap wajah gadis yang kini tersenyum senang dengan apa yang dilihatnya. “Jadi?”

“Aku menyukai bando yang dikenakannya” kata Hyejin tersenyum, namun seketika senyum itu pudar. “Kajja, kita harus ke tempat yang kau ingin tunjukkan kepadaku sebelum larut malam” kini Hyejin sudah menarik tangan Jinki dan berjalan cepat. Dia memang sangat menyukai bando dengan pita kecil berwarna ungu di atasnya itu. Namun bando itu hanya hiasan toko jadi keinginannya untuk memiliki bando itu dia buang jauh-jauh.

Selama Hyejin menariknya Jinki tidak benar-benar berpikir dengan jernih, dia masih mencoba mencerna ucapan Hyejin tadi.

Dia menginginkan bando itu.

Dia menyukainya.

Mereka berenti menunggu lampu untuk pejalan kaki menyala tapi tiba-tiba saja Jinki melepaskan tangannya. “Wae, oppa?” Hyejin menyipitkan matanya, “Jamkkanman..” Jinki berlari berbalik arah. Hyejin hanya diam terpaku tak mengerti.

Lampu untuk para pejalan kaki sudah menyala namun Jinki belum juga kembali. Hyejin sedikit cemas. Namun jika dia menyusul Jinki dia takut nanti akan nyasar dan tidak menemukan Jinki, tapi jika dia terus berdiri disini dia merasa tidak aman karena mobil berlalu lalang. Jadi dia putuskan untuk menyebrang jalan terlebih dahulu.

Jinki kembali dengan bando yang diinginkan Hyejin. Akhirnya dengan sedikit bersusah payah dia bisa membujuk pemilik butik itu untuk menyerahkan bando cantik yang dikenakan manekin itu. Senyum mengembang terus diwajah Jinki sambil memegang bando yang sudah dia dapat.

Saat tiba di tempat dia meninggalkan Hyejin matanya berpencar mencari sosok gadis itu. Namun tidak ditemukan. Di sebrang sana dia melihat orang berkerumun. Sepertinya ada kecelakaan. Mungkin Hyejin ada di sana.

Jinki menyebrang dan mengelilingi orang yang berkerumun, Hyejin tidak ditemukan diantara mereka. Namun matanya menangkap sebuah tas. Tas yang dibawa oleh Hyejin saat berjalan dengannya tadi. Dia mengambil tas itu, ada bercak darah di tas coklat susu itu.

Tubuh Jinki mulai menegang, dia melihat ke arah kerumunan kembali. Jantungnya memompa dengan cepat dan dia segera berlari melewati kerumunan itu.

DEG.

Darah. Hyejin. Tubuhnya. Tubuh gadis yang dia cari itu penuh dengan darah. Wajahnya, bajunya, kakinya. Semuanya penuh dengan darah. Kaki Jinki melemas, dia menjatuhkan bando dan tas milik Hyejin. Dan lututnya kini bersimpuh di hadapan tubuh Hyejin yang terbujur kaku.

Semua mata yang melihat Jinki memandang dengan prihatin. Jinki mulai meraih tubuh Hyejin dan mengangkat kepala gadis itu di pahanya. “Hyejin-ah

“Hyejin-ah” tangan Jinki menepuk-nepuk wajah Hyejin yang kini berwarna merah.

“Hyejin… Hyejin… Bangunlah..” suara Jinki mulai panik. Jinki mulai menangis terisak. Para penonton pun ikut sedih merasakan yang dialami namja itu.

“Tolong aku!! telpon 911!!” Jinki berteriak kepada orang-orang yang mengerumuninya. Dan salah satu dari mereka segera menelpon rumah sakit terdekat.

Jinki semakin panik saat merasakan tangan yang memegang kepala bagian belakang Hyejin mengalir darah. Dia tidak siap dengan hal-hal buruk yang akan terjadi nantinya. Dia tidak siap dengan hal ini. Tidak. Tidak akan pernah.

“Hyejin-ahh!!

-flashback end-

*****

Jinki mengingat kembali saat-saat sebelum Hyejin menghembuskan nafas terakhirnya. Jinki semakin dalam menenggelamkan wajahnya di dalam ke dua tangannya. Dia terisak. Dia merasa gagal melindungi gadis yang dia cintai. Dia merasa bahwa dirinya yang patut disalahkan atas kepergian Hyejin.

“Ini bukan salahmu, ini sudah takdir, Jinki-ah” Key menepuk-nepuk pundak Jinki yang makin terguncang. Key adalah sahabat terdekat Jinki dan Hyejin. Dia juga mengetahui perasaan masing-masing sahabatnya yang saling mencintai satu sama lain. Dialah saksi kedekatan mereka berdua selama ini. Jadi Key tahu benar apa yang dirasakan Jinki. Bukan hanya Jinki yang merasa kehilangan Hyejin tapi juga dirinya, tapi dia tahu bahwa rasa sakit atas kepergian Hyejin ini bukanlah rasa sakit yang sama seperti yang dia rasakan.

Tanpa sepengetahuan mereka berdua Taemin sudah meninggalkannya. Adik Jinki itu kembali ke kamarnya, membiarkan kedua sahabat itu di meja makan.

“Aku….” Jinki mengeluarkan suara, “aku…” suara jinki terbatah, “aku… menyesal mengajaknya pergi malam itu” satu kalimat akhirnya bisa Jinki keluarkan. Namja itu terus terisak di dalam kedua lengannya. “Ini semua salahku, Key. Ini salahku” tangis Jinki makin hebat.

Tidak ada sepatah katapun yang bisa dikeluarkan Key. Dia tidak ingin berkata apa-apa selain memeluk Jinki tanpa berusaha menenangkannya. Key tahu malam itu Jinki memang ingin memberi tahu perasaannya terhadap Hyejin selama ini. Namun sebelum perasaan itu tersampaikan Hyejin telah pergi. Dan tidak akan pernah kembali.

Air mata Key pun ikut keluar, kedua sahabat itu sama-sama menangis. Yang satu menangisi sesuatu yang tidak pernah tersampaikan, yang satunya menangisi kepedihan yang dirasakan yang lainnya.

*****

Lee Jinki keluar dari apartemennya. Dia ingin menghirup udara dingin Seoul pada malam hari. Kakinya melangkah ke arah taman—dimana taman itu adalah tempat dia dan Hyejin berjanjian. Taman itu masih sama dengan taman yang dia kunjungi seminggu lalu. Namun kini taman itu tidak lagi seperti taman yang selalu ingin dia kunjungi setiap saat karena dia tidak sabar ingin bertemu dengan Hyejin. Kini taman itu hanyalah menjadi kenangan buat mereka berdua—lebih tepatnya kenangan untuk Jinki.

Jinki berjalan menghampiri bangku yang biasa mereka berdua duduki saat keduanya tidak ingin berjalan jauh, saat keduanya hanya ingin berbagi cerita. Namun sekitar 10 meter dari bangku itu langkahnya terhenti karena bangku itu telah berpenghuni.

Jinki menelan ludah. Dia melihat punggung seorang gadis yang menduduki bangku itu. Punggung seorang gadis yang tidak asing baginya. Punggung seorang gadis yang selalu dia temui di taman ini. Dalam hitungan detik tubuhnya menegang. Kakinya bergetar. Aliran darahnya menjalar ke seluruh tubuh.

“Hyejin?” nama itu keluar begitu saja dari bibir Jinki. Jantung Jinki berdebar kencang saat dilihatnya kepala gadis itu ingin menoleh ke belakang.

Oppa!

Panggilan itu. Panggilan itu yang sering dia dengar dari mulut gadis bernama Han Hyejin. Mereka memang seumuran tapi Jinki tidak ingin Hyejin memanggil namanya saja, jadi dia menyuruh Hyejin memanggilnya dengan panggilan oppa. Awalnya membuat Hyejin tidak ingin memanggil Jinki dengan sebutan itu namun Jinki bilang bahwa dirinya sudah menganggap Hyejin sebagai adiknya.

Lalu cara memanggilnya. Cara gadis yang duduk di bangku itu memanggil sama dengan cara Hyejin memanggilnya. Dan juga wajah.

Yah benar. Wajah itu.

Wajah yang kini sudah berdiri menghadapnya itu adalah wajah Hyejin. Mimpikah ini? pertanyaan itu yang terus berputar di kepala Lee Jinki. Kini matanya menyusuri setiap inchi gadis yang ada di hadapannya itu. Gadis itu mengenakan bando yang dia belikan pada malam terakhir itu. Namun itu tidak cukup meyakinkannya. Matanya memastikan dengan jelas apakah gadis itu benar-benar nyata atau memang hanya bayangnya saja yang rindu akan hadir gadis itu di sisinya.

Oppa?” suara itu muncul lagi dan gadis yang ada di hadapannya itu berjalan ke arahnya—melewati bangku yang menjadi pembatas mereka berdua.

“Hyee…Hyejin-ah” Lee Jinki langsung menghamburkan pelukannya ke arah gadis itu. Dia memeluk erat gadis itu dengan kedua tangannya seakan tidak membiarkan gadis itu lepas dari dekapannya.

Hyejin tersenyum dalam pelukan Jinki, sedangkan Jinki menenggelamkan wajahnya dan menghirup aroma tubuh gadis itu dalam-dalam seolah ingin mengabadikan wangi gadis itu kedalam seluruh rongga hidungnya.

*****

Setelah Jinki mengontrol emosinya dengan benar, kini mereka berdua duduk dibangku panjang tempat favorite mereka selama ini.  Kepala Hyejin bersandar di dada Jinki sedangkan Jinki melingkarkan tangan kirinya di pinggang Hyejin dan tangan kananya membelai rambut Hyejin. Rasa sesak dan sakit yang dimiliki Jinki tidak kunjung reda.

“Ini mungkin terakhir kalinya kita bertemu, oppa. Jadi berjanjilah padaku bahwa oppa tidak akan menangisi kepergianku ini. Aku ingin oppa bahagia. Aku ingin oppa selalu tersenyum seperti dulu” ucap Hyejin dalam dekapan Jinki.

Jinki berhenti membelai rambut Hyejin dan menggeleng kuat “tidak mungkin, hyejin-ah” ucapnya yakin.

Hyejin mendongak ke arah wajah Jinki. Kini wajah mereka berdua saling berhadapan. Mata mereka bertemu membuat jantung—yang selama ini selalu berdebar kencang saat bertemu Hyejin—semakin cepat lagi. “Oppa, berjanjilah padaku jika oppa ingin aku bahagia juga” pinta Hyejin dengan matanya yang kini berubah nanar.

Ne..” jawab Jinki lemah. Sebenarnya dia tidak bisa mengatakan hal itu dengan mudah, namun mata gadis yang kini sudah mendekapnya erat lagi itu memberikan ketenangan dihatinya yang paling dasar. Dia akan terus mengenang gadis itu di dalam hatinya. Selamanya. Selamanya tempat untuk gadis itu di hatinya tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun. Meskipun oleh istrinya kelak.

Saranghae, Hyejin-ah

Ara, tujuanku kembali memang untuk mendengarmu mengucapan kalimat itu, oppa” jawab Hyejin sambil tersenyum dalam dekapan Jinki. Jinki mengangkat wajah Hyejin bingung namun gadis itu membalasnya dengan senyuman “nado saranghae, jinki-oppa” Hyejin kembali menenggelamkan wajahnya di dada Jinki.

Dada Jinki terasa sesak mendengar kata yang terlontar dari bibir Hyejin itu. Percuma. Percuma saja kata itu terucap kalau akhirnya dia akan melepas gadis yang paling dicintainya ini. Tangannya semakin erat memeluk Hyejin. Bibirnya mengecup puncak kepala Hyejin, menenggelamkan wajahnya disana. Mengenang semua kenangannya bersama gadis yang tidak akan pernah dia rengkuh lagi raganya. Selamanya.

**End**

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s