Fanfiction · My Imagination

Love Means Never Say Sorry – Part 1

LOVE MEANS NEVER SAY SORRY [1]

Author : AlfiRahmaa

Main Cast :

  • Kim Jonghyun
  • Lee Jinki
  • Han Hyejin (OC)

Support Cast :

  • Jang Yoomi (OC)
  • Taemin
  • Key
  • Choi Minho

Length : Sequel

Genre : Romance, Friendship

Rating : PG-15

A.N : Terinspirasi dari drama Love Rain, dengan quote yang yang berbunyi Love is never say you’re sorry.

Summary : “Aku jatuh cinta. Aku merasakannya, bahwa dalam hitungan detik aku mencintainya, aku mengaguminya dan aku ingin memilikinya. Bahkan sekarang aku merasa bahwa takdirku dilahirkan ke dunia ini adalah untuk mencintainya”

“Jjong!”

Jonghyun menerima bola yang dilempar oleh minho dengan sigap, tangannya segera mendrible bola itu ke depan ring dan dengan cepat mengarahkan bola itu ke arah ring. Shoot! Goal!

Minho menepuk tangannya untuk menyuruh jinki mengoper bola itu ke arahnya, dengan gerakan cepat jinki melempar bola itu ke arah minho dan berlari mengejar minho. Jjong yang berbeda tim dengannya membayangi jinki. Jinki menerima operan bola dari Minho lalu memasukkan bola ke ring dengan posisi three poin dan memberikan senyum ejekan ke Jonghyun. Yah, mereka memang selalu bersaing dalam bidang apapun. Kapanpun.

Minho ikut tersenyum ke arah Jonghyun dan Key, lalu menghampiri Jinki melakukan high five, “tadi keren, Hyung” ucapnya tersenyum lalu melihat ke arah Jonghyun dan Key. “Maaf, Hyung. Kali ini kalian kalah lagi” ujar Minho sambil mengangkat tangan ke arah Key dan Jonghyun.

“Ck! Jangan terlalu bangga”

Jonghyun berjalan ke arah Minho dengan mendrible pelan bola basket di tangannya, namun tangan yang tadi mendrible bola itu tiba-tiba saja berhenti. Ada yang dia tangkap dari ekor matanya. Ada sesuatu yang baru saja terekam oleh memori otaknya. Sesuatu yang membuatnya mencari tahu akhir-akhir ini. Sesuatu yang membuat garis di bibirnya merekah lebar. Sesuatu yang membuat matanya berbinar seperti menemukan cahaya yang dicarinya.

“Benar-benar… Cinta benar-benar…”

Mata Jonghyun tidak beralih dari bidikan sasaran yang sudah otomatis terkunci di matanya. Matanya seperti baru menemukan air di gurun pasir, berbinar dan menunjukkan bahwa dia benar-benar menginginkan sesuatu yang ditatapnya itu, sesuatu yang sedag berlarian di sana. Sangat. Sangat menginginkannya.

“Yaa.. Kim Jonghyun”

Key meneriaki Jonghyun dengan kesal, karena namja itu dari tadi tidak menyadari bahwa bola yang tadi dipegangnya sudah diambil alih oleh tangan Key. Dan saat teriakan itu meluncur, bola yang tadi diambil Key pun ikut meluncur ke kepala Jonghyun dengan mulus, sampai mengenai pelipisnya.

“Yaaa”

*****

“Yaa… Kau!” Yoomi berteriak mengejar Hyejin yang berlari kecil meninggalkannya, siang itu Hyejin memang sengaja menggoda Yoomi yang sedang memandangi area lapangan basket kampus.

Gadis yang selalu bersama Hyejin itu sejak pagi tadi memandangi area lapangan basket dengan garis senyum yang tidak hentinya lepas dari wajah gadis itu. Senyum yang mengembang saat melihat salah satu namja di lapangan itu adalah senyuman kekaguman. Yah, namja yang sempat dilihatnya beberapa hari lalu bersama Hyejin itu membuatnya tertarik untuk mengikuti pertandingan kecil ala mereka berempat.

“Kenapa kau tidak percaya padaku sih, dia itu benar-benar tampan” ujar Yoomi sambil mengikuti langkah Hyejin yang kini hanya bisa tersenyum.

“Aku tadi tidak melihatnya” jawab Hyejin sambil membenarkan posisi bukunya yang dia bawa di lengannya. Dan saat melewati beberapa orang yang berkumpul di koridor gadis itu tersenyum sambil sedikit menganggukkan kepalanya. Senyuman seperti biasa. Sopan santun. Sama seperti yang selalu dia bilang.

“Ck! Selalu saja seperti itu”

Gadis itu hanya tersenyum tipis mendengar jawaban temannya, sangat tipis, bahkan orang yang tidak sedang berhadapan dengannya langsung tidak bisa menangkap senyum itu. Benar apa kata Yoomi, gadis itu memang selalu seperti itu. Hyejin selalu saja bersikap dan berperilaku ramah kepada semua orang tapi jika ada orang yang mencoba mendekatinya gadis itu selalu menjaga jarak. Jarak yang dia timbulkan tidak pernah benar-benar terlihat, namun cukup membuat orang-orang yang mendekatinya menyerah. Menyerah karena mereka merasa cinta mereka benar-benar dihempaskan olehnya.

*****

Indah itu sebenarnya sederhana, saat kita bisa melihat seseorang yang kita suka dalam jarak pandang yang dekat saja bisa membuat hari terasa indah. Yah, sama seperti yang dirasakan seorang namja yang lagi-lagi duduk di kursi dekat taman kampusnya. Dia berharap hari ini terasa indah, sama seperti hari-hari sebelumnya.

Menunggu. Menunggu gadis pujaan hatinya. Hal itu merupakan aktivitas yang sering dia lakukan, bukan sering lagi, tapi sangat. Yah, sangat. Sepertinya kata itu lebih cocok bila disandingkan dengannya saat ini.

Ia menaikkan satu kakinya ke kakinya yang lain sambil membaca buku tentang genetika di tangannya dan sesekali melirik ke arah gerbang yang pandangannya tidak jauh dari tempatnya duduk. Sudah sejak pagi namja yang kini berstatu sebagai mahasiswa kedokteran itu memandang ke arah luar, berharap orang yang kini dia tunggu bisa segera menampakkan diri di hadapannya.

Ck! Terlalu mengharapkan itu tidak baik. Namja itu bahkan sudah sering mengatakkannya pada dirinya sendiri, tapi dasar hatinya mengatakan lain. Dia masih ingin berharap gadis yang dia tunggu kembali lewat di hadapannya dan memberikan senyuman yang sudah menjadi candu itu. Entah sejak kapan nalarnya udah dibutakan oleh semua itu. Sejak senyuman itu tersungging di bibir sang gadis, atau sejak pertama dia melihat gadis itu. Entahlah dia sendiri tidak tahu. Karena dia tidak mau mencari tahu.

Yang dia tahu sekarang. Dia menunggu gadis itu dan berharap akan sesuatu yang bisa mengobati candunya agar bisa menyelipkan kata ‘Indah’ kembali dalam harinya. Cinta memang sesederhana itu.

*****

Cinta itu rumit. Cinta itu terlalu sulit untuk dipahami dan dimengerti oleh nalar seorang gadis seperti Hyejin. Baginya cinta itu bukan sesuatu yang perlu diagungkan, cinta bukanlah sesuatu yang penting yang harus terjadi dalam hidupnya. Namun itu semua berlaku sebelum dia berdiri di depan seorang namja yang duduk di bangku bus dekat jendela.

Pagi itu bus yang dia tumpangi penuh, hanya satu bangku yang tersisa di bus tersebut. Yah, bangku kosong yang tersisa adalah bangku yang kini diduduki oleh namja yang sedang mendengarkan musik dari mp3 playernya dengan headphone yang kini bersemayam di kepalanya.

Hyejin terpaku saat meihat namja itu. Bukan, bukan terpaku karena ketampanan atau melihat namja di depannya itu diam saja, namun terpaku karena mendadak detak jantungnya berdetak cepat hanya melihat kehadiran namja itu. Hyejin memegang dadanya, dirasakan buliran keringat mengalir di pelipisnya. Sebenarnya apa yang dia rasakan sekarang. Cinta kah? Atau dia baru pertama kali melihat ada seorang namja yang menarik perhatiannya?

Benarkah? Hanya karena itu? Dia sendiri bahkan tak mengerti apa yang dia alami. Ck! Jika benar apa yang orang bilang kalau yang dinamakan cinta seperti ini, dia benar-benar menyesal memulainya.

*****

“Hyung!”

Panggilan Minho membuat Jinki menoleh ke arah suara, Jinki memutar tubuhnya dan menunggu sampai Minho sampai di hadapannya.

“Ada apa?”

“Jjong Hyung ke mana, Hyung? Dari tadi aku mencarinya tidak ketemu” tanya Minho sambil terus mengedarkan pandangan ke sekitar yang mencapai arah jarak pandangnya, berharap orang yang dia carinya itu bisa ditemukan.

Jinki menggeleng sambil meletakkan satu tangan yang bebas ke saku celananya, dan tangannya yang memegang buku terangkat sedikit, melihat jam yang melingkar di sana, “tapi sepertinya dia belum datang, memangnya ada apa kau mencari dia?”

“Aku ingin bertanya sesuatu padanya, soal kemarin. Jjong hyung kan bilang soal…”

Entah apa lagi yang dikatakan Minho, yang jelas, sekarang Jinki sama sekali tidak tertarik dengan hal itu, perhatiannya tersita ke arah yeoja yang tertawa lepas dengan angin yang—lagi-lagi—membuat gadis itu terlihat sangat cantik di matanya. Sangat. Sangat itu tidak bisa terdefinisikan kan seberapa banyak. Nah itu yang dia rasakan sekarang.

“Hyejin”

Nama itu terucap dari hatinya, hati yang sudah menunggu kehadiran gadis itu sejak pagi tadi. Hati yang sudah menemukan rasa nyaman yang kembali menyeruak masuk, mendobrak pintu hatinya sesuka hati. Namun Jinki sama sekali tidak keberatan, tidak. Karena yang mendobrak hatinya itu adalah gadis yang dia tau bernama Hyejin. Nama yang indah.

Senyum terus merekah di bibirnya, sampai Minho menatap Jinki dengan kening yang berlipat-lipat. Tidak seperti biasanya namja yang berdiri di hadapannya itu melamun tiba-tiba. Merasa apa yang tadi dia ucapkan itu sia-sia akhirnya Minho mengikuti arah pandang Jinki. Dan disitulah dia menemukan seseorang yang dia cari.

“Jjong hyung!” teriak Minho sambil melambaikan tangan ke arah Jonghyun yag sedang berjalan bersama seorang wanita.

Chankaman! Wanita? Jinki segera menggerakkan matanya ke seseorang yang ada di samping Hyejin. Napasnya bahkan seperti berhenti detik itu juga, apalagi mengingat ucapan namja yang kini melambai ke arahnya malam itu.

“Sayang sekali, aku percaya dengan hal itu. Dan kini aku merasakannya”

“Kim Jonghyun…”

To Be Continue…

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s