Fiksi · My Imagination

Selamat malam

Malam yang tenang.

Kepalaku tergeletak di atas meja. Pandanganku tertelan pada sisi kiri, memandangi tumpukan buku tak berjudul. Bulu kudukku berdiri tanpa dingin menerpa. Tanganku terkulai kebawah, di dasar kursi yang kutunggangi. Mataku sama sekali tak berniat terpejam, padahal larutnya malam sudah menjemput.

Ragaku disini, tapi jiwaku terbang. Terbang bersama sorotan sinar bulan tak sempurna yang menyinari tanah. Ya, tanah yang sama, yang kita jejak setiap hari, dengan langkah kaki tak beraturan. Jiwaku melayang, memimpikan hari-hari yang pernah kita lalui bersama berdua, seolah dunia milik kita tanpa ada makhluk lain yang jantungnya pernah berdetak.

Kepalaku mungkin tergeletak, tapi kenangan yang singgah di dalamnya, sedang mencuat. Berharap tak termakan oleh kerinduan yang terlalu kejam. Kemudian, keheningan menyapa lagi, seperti awal dari kisah ini. Sang jarum panjang bergerak, mengisi kekosongan simfoni tengah malam.

Tik, tik, tik, tik. Ketukan tanpa improvisasi yang menghiasi pemikiranku.

Aku berkedip, mengerjapkan mata. Berusaha membayangkan, apa yang kau lakukan disana. Mungkinkah kau sedang duduk, diatas kursi bermotif bunga kuning tua yang empuk? Menghadap ke jendela, memandang ke bawah, ke tempat keramaian bermusik? Hmm, bermusik, dengan suara klakson, peluit polisi, knalpot yang macet, ban yang berdecit? Atau mungkin, kau sedang menghirup hangatnya teh yang baru kau tuang dari teko? Mungkin. Ya, mungkin.

Tapi itu tak pasti. Dan apa pedulimu mengetahui kelakarku? Apa pedulimu mengenai ketidakpastian yang kuungkapkan?

Aku meraih telepon genggamku. Kusentuh layarnya dengan kulit kering jari telunjukku. Kugoreskan namamu tanpa suara. Kemudian syarafku berhenti bekerja. Berhenti pada dua pilihan. Meneleponmu? Atau tidak.

4 detik berlalu. 5, 6, 7. 7 detik kubutuhkan untuk membayangkan masa depan. Kutinggalkan telepon genggamku di pelukan bantal. Aku terdiam. Terpejam lunglai tanpa harapan hidup. Masih di meja yang sama.

Kusampaikan pesan tak terucap ini melalui redupnya sinar pantulan matahari. Aku sayang padamu. Selamat malam. Mimpi indah.

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s