Cerpen · Fiksi · My Imagination

Akasia yang Berguguran

Aku tak mengerti kenapa masih berdiri di sini, menyaksikan daun-daun akasia yang jatuh berguguran. Sedangkan mentari sudah tergelincir. Dengan senyum kemenangan yang tersungging di wajah jingganya. Menyisakan panas yang membara di tubuh senja. Dan angin pun menghempas dahan, memaksa daun-daun keringnya jatuh berguguran, dalam jerit yang gemerisik. Terlalu kering untuk bertahan.

Dan sehelai daun jatuh di pundakku, menggodaku untuk meraihnya. Kuamati pucuknya di jemariku. Meski bentuk bulan sabitnya sudah tak asing lagi, namun warna kuning semburat hijaunya menarik perhatianku. Masih terlalu muda untuk jatuh terserak. Seperti dirimu yang kini juga terasing. Terasing dalam penjara yang kau pilih. Meninggalkanku dalam sahara kepedihan.

Pedih setiap kali melihat daun akasia jatuh berguguran karena akasia adalah cintamu. Seperti yang pernah kau katakan padaku.

“Kau juga menyukainya?” tanyamu mengejutkanku saat itu.

Kau tiba-tiba muncul, ketika aku sedang terbius oleh indahnya bunga-bunga akasia yang kuning menyejukkan. Aku berpaling padamu, masih sama terbiusnya oleh sosok tampanmu.

Pertama kalinya kudengar suaramu begitu dekat. Tak ada lagi bingkai jendela yang menghalangi. Hanya pagar perdu yang memisahkan kita, namun itu tidaklah berarti. Kita berada di tempat yang sama kini, di bawah pohon akasia, di samping rumahku, juga di samping rumah kontrakanmu, menjadi penyekat halaman kita.

Melihatku hanya terpaku, kau melanjutkan ucapanmu, “ternyata kau jauh lebih cantik daripada yang biasa kulihat dari balik jendela” ucapmu dengan senyuman tipis. Kata-kata itu seolah menamparku. Ternyata kau tahu bahwa selama ini aku selalu mengamatimu dari jendela kamarku. Aku tersipu, lebih-lebih dengan kata cantik darimu. Walau kutahu itu hanya basa-basi, namun tak urung jua membuat pipiku merona.

“Hm, aku cuma heran, kenapa pohon sekering akasia ini bisa menghasilkan bunga yang begitu indah,” kataku mengalihkan pembicaraan, menutupi alasan yang sebenarnya bahwa aku penasaran, apa yang menarik dari pohon ini sehingga orang sedingin dirimu setiap hari menyempatkan diri untuk mengamatinya atau sekedar menoleh padanya. Ya, selama ini sikapmu terlalu dingin. Tak pernah kulihat ada senyum di bibirmu. Tak pernah pula kau sapa orang di sekitarmu. Kau selalu larut dalam duniamu, yang gerbangnya tertutup rapat.

“Akasia adalah pohon yang tegar dalam cuaca apapun. Saat hujan, dia melebatkan daunnya. Dan ketika terik mentari membakar, daun-daunnya gugur untuk membentuk rangkaian bunga.” katamu, lalu mendongak mengamati bunga akasia yang sedang bermekaran.

“Kau tahu makna dari bunga akasia? Dia adalah lambang dari cinta yang terpendam.” Kulihat matamu berbinar.

Aku terpukau, mulai tertarik oleh akasia, dan juga olehmu. Aku tahu, kuntum bunganya telah kau berikan padaku. Tidak hanya setangkai, tapi utuh bersama pohonnya. Dan aku tak mampu menolak debar ini. Sebuah rasa yang terpendam untukmu, yang kian hari kian membakar nalarku.

Hingga tanpa sadar aku selalu menantimu. Kadang berhari-hari kau menghilang. Tapi aku tetap di sini, di bawah akasia ini, menunggumu. Walau kutahu daunnya tak mampu melindungiku dari panas terik, tak meneduhkanku dari derasnya guyuran hujan, tapi aku tetap di sini, menanti.

Sampai suatu hari kau menghampiriku. Saat payung cintamu melindungi, kurasakan besarnya kehangatan di balik kebekuanmu selama ini. Kau ajari aku filsafat baru. Tentang arti kebahagiaan yang selama ini kucari. Dan aku semakin mencintaimu. Aku tahu, aku tak sendirian memendam rasa itu. Bunga akasia bukan untukku saja, tetapi kini telah menjadi milik kita berdua. Dan kita memupuknya berdua, menjadikannya bunga terindah di musim ini.

Namun satu musim bunga pun berlalu. Bunga yang selama ini kita hitung kuntumnya, kini mulai berguguran. Disusul oleh perubahan sikap dan hadirmu.

“Jangan berteduh di bawah akasia lagi, Sayang” ucapmu dikala aku sedang terbuai oleh semilir kasihmu. Aku tak mengerti.

“Dia tidak akan melindungimu dari panas dan hujan.”

“Tapi kenapa?” tanyaku.

“Akasia tidak ramah pada lingkungan. Tidakkah kau merasakannya?” tanyamu.

“Dia banyak menyerap unsur hara dari sekitar, dan daunnya sangatlah kering. Sulit diurai oleh tanah.” katamu, lagi-lagi dengan makna tersembuyi.

“Pentingkah itu?” protesku.

Kau menatapku lekat-lekat. Lalu tersenyum, getir.

“Aku adalah akasia itu. Jadi kumohon, pergilah dariku.” pintamu, diiringi kelopak bunga yang berguguran dalam hembusan angin.

Entah apa maksudmu, aku masih tak mengerti. Kau telah bukakan gerbang itu untukku, dan kini kau mengusirku. Setelah aku masuk terlalu dalam. Setelah kita tenggelam dalam impian.

Aku memang tak mengerti apapun tentang dirimu, juga tentang pekerjaanmu, ataupun tentang senjata tajam yang pernah kutemukan di lacimu. Aku hanya tahu bahwa kita saling menyayangi. Namun itu tidaklah cukup untuk mengetuk pintumu. Kau masih membungkam, menyisakan sejuta tanya di hatiku, tanpa secercah jawaban darimu.

Hingga akhirnya kutemukan jawaban itu sendiri. Kau datang dengan luka carut-marut di tubuhmu. Airmataku tertumpah—ah, hidup macam apa yang kau jalani—bercampur keringat, darah dan airmata, kau menatapku.

“Pergilah!” bentakmu.

Padahal aku mengharap yang lebih dari itu, mengharap kau mengeluh tentang rasa sakitmu, menumpahkan airmata di pangkuanku. Atau setidaknya, ijinkan aku untuk mengobati lukamu. Namun kau tetap tak bergeming. Kering.

“Anggap kau tidak pernah mengenalku.” ucapmu dingin, lalu menutup pintu di belakangku.

Aku tak pernah mengerti. Hingga beberapa orang polisi datang membawa anjingnya yang terus menyalak. Dari balik jendela kulihat mereka menyeret kemanusiaanmu. Aku terpaku. Dan kau masih sempat menoleh pada akasia kita, juga padaku. Seolah berbisik, kumohon—tutup matamu.

Tidak, tak kan kupejamkan mata ini. Aku tetap ingin melihatmu seutuhnya. Melihatmu sebagai seorang bajingan, ataupun sebagai akasia-ku. Aku ingin tetap mencintaimu, apa adanya. Meski kutahu kepingan hati ini terlalu retak untuk disusun kembali. Tetesan kristal ini, sebanyak daun akasia yang jatuh berguguran menangisi cintamu.

“Kau tahu makna dari bunga akasia? Kumohon, pendam cintamu dalam kuburan terdalam.” pintamu untuk terakhir kalinya.

“Aku akan menunggumu.” jawabku mencoba bertahan.

“Aku tak akan keluar dari penjara ini. Kalaupun suatu saat aku bebas, teman-temanku pasti membunuhku.” Kau menjelaskan tentang masa depanku. Bukan penjelasan tentang dirimu, ataupun akasia yang menjadi pilihanmu.

“Lupakan aku,” katamu sebelum masuk kembali ke dalam jeruji besi.

Kau meninggalkanku dalam sahara kepedihan. Yang setiap butir pasirnya menjadi debu di mataku. Menguras habis telaga beningku.

Aku tersadar. Daun kering itu sudah jatuh dari genggaman. Warna kuning semburat hijaunya kini terserak di tanah kering. Ah, kau masih terlalu muda untuk jatuh berguguran.

10 thoughts on “Akasia yang Berguguran

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s