Fanfiction · My Imagination

Insanity

Main Cast :
Lee Jinki
Han Hyejin (OC)

Support Cast :
Choi Minho
Kim Jonghyun
Length : Oneshot

Genre : Thriller,

Rating : PG-17

Summary : Dendam adalah senandung yang selalu dinyanyikan duet oleh jiwa kami.
Warning : Penuh dengan kekerasan

INSANITY

Tubuhku gemetar, air mata mengalir deras menuruni pipiku. Hatiku ini benar-benar sakit hingga rasanya tidak ingin hidup di dunia ini lagi. Dunia ini tidak menerimaku, mendiskriminasi dan menyingkirkan yang berbeda. Ah, makhluk fairytale jika kau memang ada kiranya bawalah jiwaku ini ke dunia kalian, bebaskan aku dari raga beratku yang terikat pada realita. Dunia ini menolakku, separuh diriku telah menolakku. Laki-laki yang sangat kucintai tidak menyukai kepribadianku yang cacat, dia memandangku dengan jijik.

Apakah aku menjijikkan? Bukan keinginanku jika jiwa ini retak. Empat tahun yang lalu lelaki brengsek menghancurkan jiwa kecil yang telah retak ini. Akankah jiwa rusak ini bertahan? Ya, dia masih bertahan meski beberapa bagiannya telah menghilang. Aku hanya menginginkan jiwa gelapku ini tenang, nyaman bersanding dengan kegelapan lain dari kekasihku kelak. Tetapi dia yang brengsek hanya berpura-pura, bermain peran menjadi seseorang yang sangat mengerti kegelapan hati ini. Ternyata kau tidak lebih dari ular beludak sialan yang berlidah cabang.

Taring berbisa itu menghujamku, jiwa gelapku ini teracuni dengan bisa bernama kebencian. Rasa menyesakkan bernama benci membuatku nyaris gila. Keinginan untuk mencincang raganya bergelut hebat dengan kesadaran tubuh beratku ini. Andaikan dunia ini tidak memiliki kemunafikan bernama hukum, meski kelak aku harus terpasung dengan beban dosa aku menginginkan nyawanya melayang.

Rasa perih menjalari lengan kiriku yang baru saja tersayat besi pipih bernama cutter. Logam mengkilat itu menjilat kulitku memekarkan kelopak mawar mini berbau anyir. Beberapa bulan setelah kepergian lelaki brengsek itu seorang laki-laki baik hati mengulurkan tangan padaku. Dia memberikan kasih sayang, kata-kata manisnya membelai lembut hati yang terluka ini. Membuatku melupakan penolakan dunia ini padaku karena orang itu memiliki bau yang sama denganku. Kami memiliki sisi gelap, dan aku memahaminya bukan dengan gumpalan otak di kepalaku melainkan dengan jiwa retak ini.

Ya, dia menemukan sesuatu yang mirip dengan dirinya.

Tetapi kegelapan manis itu tak lama berlangsung, saat lelaki yang menganggap dirinya malaikat itu mengkianati kesetiaanku dengan dalih palsu. Ah, saat itu aku menangis berhari-hari. Ketika kudengar dari sahabatnya yang memiliki bau bak iblis aku sadar jika dia tak lebih dari pemain wanita.

Ya, ya…. Aku ingin menghujamkan kelima kuku ini ke wajah yang dia banggakan, menariknya ke bawah membentuk guratan basah warna merah. Rasanya merinding membayangkan rintihannya.

Lee Jinki, lelaki yang memiliki aroma iblis itu menarikku dari jurang keputusasaan. Saat itu jiwanya juga menyebarkan aroma kebencian sama seperti milikku. Ya, saat itu hati kami sama-sama terluka oleh bisa bernama kebencian. Dendam adalah senandung yang selalu dinyanyikan duet oleh jiwa kami.

Aku sangatlah mencintai laki-laki iblis yang ternyata di dalam jiwa keruhnya itu terdapat hati murni. Beberapa kali aku ingin mencemari hati itu dengan kegilaan dan kemarahanku hanya saja dia selalu menarikku kembali ke dunia nyata di mana tubuh beratku ini terikat. Hanya dialah rantai yang dapat menarikku kembali ke dunia yang kubenci, karena keberadaannya. Tanpanya aku hanya raga kosong dengan nafas kehidupan.

‘Hyejin-ah, aku tidak suka jika kau berbuat kasar pada orang lain’

Kasar? Menurutku itu hal biasa saja, kenapa kau tidak menerimaku apa adanya? Jiwa ini memang ‘sakit’, tetapi bukan berarti aku menyukainya. Emosi ekstrim yang selalu muncul mendadak membuatku takut. Takut dibenci olehmu, takut menyakitimu, takut jika mendapat pandangan jijik darimu. Juga ketakutan karena tidak mengenali diriku sendiri?
Apakah sesuatu yang jahat menguasaiku? Atau sejak awal memang jiwa ini bersifat keji?

Jinki-ku tercinta, terima aku. Inilah aku, baik sisi terangku yang ceria maupun sisi gelapku yang gila. Aku tidak menginginkan barang-barang mahal atau permintaan muluk lainnya hanya satu hal yaitu terima aku seutuhnya dan cintai juga sisi gelapku meskipun memuakkan.

Tetapi bagimu untuk mencintai sisi gelapku merupakan permintaan sulit, tampaknya kau begitu membenci kegelapanku. Jiwa retakku ini mendesakku untuk membebaskan kegilaan atas dendamku. Aku akan menemui keduanya. Lelaki yang membuat sisi gelapku semakin pekat dan jahat. Jangan salahkan aku yang menjadi semakin jahat karena kalian.

*****

Aku mengalunkan sebuah lagu gothic, dengan tema haloween yang merupakan perayaan yang berjarak beberapa hari dari hari ulang tahun kekasihku.

“Lalalalala~ Lalalalala~ Really scary violet moon light. Lalalalala~ Lalalalala~ Are you ready to say trick or treat?

Kuputar sebuah garpu perak yang baru saja kukeluarkan dari kantong. Aku menduduki sesuatu yang tergeletak di lantai. Dari saku celana kukeluarkan sebuah ampul berisi cairan bening berlabel Lidocaine dan sebuah syringe. Bagian puncak dari wadah kaca itu kupatahkan, dengan sebelah tangan menarik cairan bening itu menggunakan syringe di tangan kananku. Setelah wadah kaca itu kosong kujilat permukaan kulit seseorang, kemudian perlahan kutusukkan jarum syringe tadi dan memindahkan cairan itu hingga habis.

Kutelusuri wajah berkulit putih seorang laki-laki dengan jemariku.

“Jonghyun-ah, bagaimana dengan pacarmu yang sekarang? Cantikkah? Kenapa mereka sangat bodoh mau menjadi pacarmu?” Gelak tawaku pecah sesaat, entah apa yang membuatku tertawa kesetanan seperti sekarang.
Kupandangi kulit putihnya yang bersaing denganku. Dengan garpu perak yang kuletakkan di dekat kakiku empat buah garis paralel kubuat menghiasi wajahnya. Aku mengulangi bekas guratan tadi sampai beberapa kali sambil terus menekan tanganku untuk membuat lukanya semakin dalam.

“Kau tau, Jonghyun-ah? bersama denganmu itu membuatku menderita. Harus mendengarkan cerita sombongmu, mendengarmu membanggakan diri sendiri yang sebenarnya payah. Sejujurnya aku menertawakan dirimu di belakang,” seruku sambil tertawa lantang. Rasa marah dan muakku hilang seketika itu juga, rasa geli menghampiriku secara tiba-tiba.

Aku tertawa terbahak hingga perutku sakit, air mata mengalir turun.

Dengan sebuah cutter merah aku merobek kulit di bawah tulang rusuknya, di tempat di mana orang menyebut ulu hati terletak. Kubuka kulit pria bernama lengkap Kim Jonghyun itu yang telah mati rasa karena Lidocaine dengan sebelah tangan di bantu dengan cutter.

Laki-laki ini tidak dapat berontak karena aku telah memaku kedua kaki dan tangannya dengan lantai. Di lengan kirinya tersambung dengan kantong darah yang memasuki pembuluh di lengannya. Tujuanku adalah untuk menyiksa, bukan untuk membunuhnya. Aku telah membungkam mulutnya supaya dia tidak berteriak dan mendatangkan tetangga sebelah rumah kemari.

“Jonghyun-ah yang merasa tampan, aku berterima kasih padamu pernah mengulurkan tangan padaku. Itu sebabnya aku tidak membunuhmu seperti dia.” Seringai menghiasi wajahku yang penuh dengan cipratan darah. Di sebelah Jonghyun terdapat onggokan daging yang dulunya adalah manusia.

Beberapa jam yang lalu aku membunuhnya, kemudian memotong tubuhnya dengan gergaji mesin. Beberapa kali aku menghancurkan tengkorak kepala makhluk brengsek itu dengan kapak yang tergeletak di sebelah Jonghyun.
Kini lelaki ular itu tak lagi memiliki hal yang disebut jasad yang biasa menjadi satu-satunya hal yang dimiliki oleh orang mati. Aku telah menghancurkannya, mencincang dagingnya kecil-kecil serta meratakan tulangnya dengan lantai. Kini dia pantas disebut sebagai sampah karena dia salah satu mantan pacarku yang cukup brengsek, yang bernama Choi Minho.

“Nah, Jonghyun-ah aku tidak akan membunuhmu. Yang kuinginkan adalah membelai dan merasakan debar jantungmu langsung dengan tanganku ini.”

Kubaringkan tubuhku di atas tubuhnya, sedang tangan kananku memasuki ‘pintu’ yang tadi kubuat. Kupejamkan mataku saat tangan ini merasakan degup kantong darah bernama jantung secara langsung. Rasanya terasa menggelikan di dalam sana, beberapa kali aku ingin meremas hancur jantung itu tetapi kemudian mengurungkannya.
Tujuanku tidak untuk membunuhnya melainkan hanya untuk bersenang-senang melihatnya yang merintih setelah biusnya menghilang.

*****

Beberapa saat sebelum efek Lidocaine benar-benar menghilang Jonghyun tampak mulai menggeliat kesakitan. Ah, ini yang kutunggu. Aku bangkit dan duduk bersila di lantai sambil memejamkan mata. Nada baru yang tercipta dari nyeri hebat yang menjalar cepat. Tubuhku merinding bak mendengar seorang soprano melantunkan lagu cinta.

“Suara rintihan yang indah. Sesuai dengan katamu, suaramu memang indah jika menyanyi. Menyanyikan melodi kematian seperti sekarang.”
Aku tersenyum sambil memandangi tubuh Jonghyun yang mulai meronta.

Brakk!! Brakk!! Brakk!! Graaakkkk!! 

Pintu di belakangku dijebol paksa oleh seseorang. Senyum menguap dari wajahku. Tubuhku mulai bergetar hebat, dan air mata mulai menganak sungai. Aku merangkak menjauhi laki-laki yang melangkah ke arahku.

“Jangan, jangan lihat aku dengan tatapan seperti itu. Keluar!!! Keluar!!!”

Aku gemetar di balik tirai jendela kamarku.

Ke-kenapa dia bisa kemari?
Aku tidak ingin dilihat olehnya dalam keadaan seperti sekarang.
“Jangan mendekat!!” seruku dari balik tirai.

“Hyejin-ah, ayo kita kembali. Aku sudah menghubungi ambulans untuk membawa Jonghyun,” kata laki-laki itu.

“Untuk apa aku kembali? Kau membenciku kan?! Kau tidak menyukai sisi diriku yang ini kan?” jeritku.

Laki-laki bermata hitam dengan rambut bercat cokelat menyingkap tirai putih yang menutupiku, “maafkan aku,” bisiknya. Perlahan kedua lengannya merengkuhku masuk dalam pelukannya.

“Ayo kita kembali,” bisiknya di dekat telingaku. Dia memelukku dengan erat.

“A-aku… membunuhnya. Dengan tangan ini”

Tubuhku gemetar melihat kedua tangan ini berlumuran darah. Saat pandanganku tertuju pada cermin oval di sebelahku kedua kakiku langsung kehilangan tenaga dan terduduk lemas. Seluruh tubuhku dipenuhi cipratan darah, bahkan rambut hitamku yang menggantung sebatas punggung juga lembab karena darah.

Aku menjerit, menutup wajah dengan kedua tangan berlumuran darah, bau anyir di ruangan ini membuatku ingin muntah. Itukah hasil perbuatanku? Sekeji inikah aku?

“Jinki-ah, aku….” Aku memandangnya dengan tatapan nanar.

“Mari kita pulang,” katanya sambil mengangkat tubuhku yang berbau amis.

Kulingkarkan kedua lenganku pada lehernya. Kupejamkan kedua mataku ketika Jinki membawaku keluar dari kamarku. Dia membuka pintu mobil putihnya untukku yang masih terdiam dengan pandangan menerawang.

“Hati-hati kepalamu,” katanya lirih saat aku memasuki mobilnya. Setelah menutup pintu di sebelahku dia berjalan memutari bagian depan mobil lalu duduk di sebelahku.

*****

Pemandangan di sampingku berlalu dengan cepat, jalanan masih sangat lengang karena waktu menunjukkan pukul 3 pagi. Lampu jalanan berlalu membentuk sekelebat cahaya dengan pendar kekuningan. Setelah setengah jam tidak berbicara apapun Jinki menghentikan mobilnya persis di depan rumah.

Jinki turun terlebih dahulu lalu membukakan pintu untukku. Dia mengangkatku memasuki rumahnya yang sudah sejak sebulan yang lalu menjadi milikku juga. Satu persatu anak tangga dia naiki, tak satu katapun keluar dari mulutku setelah keluar dari kamarku.

Laki-laki yang menjadi tunanganku ini membuka sebuah kamar, ditengah ruangan terdapat sangkar burung berukuran raksasa. Tingginya mencapai 5 meter, diameternya mencapai 3 meter. Di dalamnya terdapat ranjang di mana kami biasa tidur bersama selama sebulan ini.

“Bersihkan dirimu sebelum darahnya mengering.” Dia menurunkanku persis di depan pintu kamar mandi, aku berjalan lunglai menuju shower.

Dingin, bercampur bau anyir yang mengambang samar. Suara air yang menyemprot keluar dari shower dan dinginnya air menciptakan suasana baru dalam hati ini. Lamunanku dibuyarkan oleh suara laki-laki yang memasuki kamar mandi.

“Sudah satu jam kau berada di bawah shower, kau bisa sakit.” Katanya sambil menekan keran shower, lalu membungkus tubuhku dengan handuk yang dibawanya. Jinki mengangkatku keluar dari kamar mandi lalu membawaku menuju sangkar raksasa di tengah kamar.

Aku duduk di pinggir ranjang, di kedua tanganku diletakkan beberapa obat. Ada capsul berwarna putih merah, tablet putih elips, tablet bulat berwarna pink dan 1 tablet elips berwarna ungu muda. Kutelan keempat obat tadi bersama air yang baru saja diberikan Jinki padaku. Sudah lebih dari setahun aku mengkonsumsi obat anti depresan ini, dan beberapa kali dokter menaikkan dosisnya akhir-akhir ini.

Kukenakan pakaian di dekatku yang sengaja diletakkan oleh Jinki. Bagian punggung baju tidurku basah karena rambutku.

“Hyejin-ah, tidurlah. Pagi ini aku harus mengurus sesuatu,” katanya sambil merebahkanku perlahan ke ranjang. Dia pasti akan menemui polisi bermata sipit itu. Tiap kali aku kabur Jinki akan berurusan dengannya karena aku menimbulkan masalah.

“Hyejin-ah, maafkan aku. Maaf atas kata-kataku sebelumnya,” katanya lirih, “dua hari lagi kita akan bersumpah setia di depan altar. Aku mencintaimu apa adanya, maafkan kata-kataku siang tadi” tambahnya seraya membuatku menahan napas untuk beberapa detik.
“Kau tidak marah? Tidak membenciku? Tidak akan meninggalkanku?” tanyaku.

Laki-laki itu menggeleng pelan lalu tersenyum. “Tidak,” sebuah kecupan ringan mendarat di bibirku. Dia naik ke atas ranjang lalu memelukku sambil berbaring, “tidurlah, aku akan menemanimu hingga terlelap.”

“Ya…,” kataku lirih.

Samar-samar aku mendengar Jinki berbicara dengan seseorang di ponsel. Pasti polisi itu, sebentar lagi dia pasti akan bertemu dengannya. Terdengar bunyi pintu sangkar berderit menutup lalu disusul suara kunci diputar .

Ya, Jinki-ku pasti akan menemui polisi cerewet itu lagi, polisi yang selalu memaksanya untuk memasukkanku ke rumah sakit jiwa. Kekeraskepalaan Jinki memang tiada duanya, dia tetap ingin menikahi gadis sakit jiwa. Tetapi aku bahagia karena aku dicintai, baik raga beratku ini juga jiwa sakit yang gila ini.
End

2 thoughts on “Insanity

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s