Cerpen · Fiksi · My Imagination

No Words Left

“Jarak terjauh bisa dirasakan oleh dua orang yang sedang duduk bersebelahan,
atau tangan yang saling menggapai, namun tidak pernah sampai.”

Ia terlihat santai, mengenakan kemeja dan dasi biru gelap yang sudah dilonggarkan. Lengan kemejanya juga telah digulung sampai ke siku. Ia menyeruput kopinya, tanpa mengalihkan perhatian dari monitor laptop. Sudut matanya menangkap mataku yang sedang memperhatikannya dengan seksama. Membuatku reflek menunduk sibuk memainkan cangkir di hadapanku. Berpura-pura.

Ia tersenyum, kemudian bertanya lembut, “dingin?”

Di luar sana memang turun hujan. Aku menengok ke belakang, memperhatikan orang yang lalu lalang berlari menghindari tetes-tetes air hujan agar tidak kebasahan.

Pelan, aku menggeleng, kemudian membalas senyumnya. Padahal dalam hati mengangguk mengiyakan. Aku menempelkan kedua belah telapak tanganku pada cangkir, berharap melalui buku-buku jari, kehangatannya akan mengalir.

Ia meneruskan kesibukannya membaca. Aku memperhatikan diam-diam. Matanya yang sibuk menelusuri setiap kalimat, sedangkan tangannya menggenggam secangkir kopi hitam hangat. Kopi hitam. Ia menyukai kopi seperti aku mencintai teh. Ia tidak bisa hidup tanpa kopi seperti aku memuja rasa pahit pada teh.

“Kamu ingat pertama kali kita bertemu? Kita juga duduk di meja ini ya?” Ia berhenti sejenak. “Waktu itu…aku melihatmu sedang sibuk dengan laptop-mu. Entah apa yang sedang kamu kerjakan sampai keningmu berkerut begitu. Entah apa juga yang membuatku berjalan menghampiri untuk sekedar mengetahui siapa namamu. Lalu, semenjak itu, aku langsung menjadi penggemar fanatik tulisan-tulisanmu.”

Di kepalaku, kembali terbayang pertemuanku dengannya dua bulan lalu. Aku sedang menulis cerita, saat ia dengan secangkir kopi hitam di tangannya muncul. Menyapa dengan suara lembutnya, meminta ijin untuk duduk di kursi kosong yang ada. Saat itu, aku hanya terdiam, kemudian mengangguk setuju, mengikhlaskan konsentrasiku lenyap dan tulisanku harus menggantung menunggu waktu. Matanya memperhatikan gerak-gerikku, dan aku mati-matian menentramkan debur jantung, sampai tanganku menyenggol cangkir teh yang akhirnya hancur berderai saat menghantam lantai.

Aku menatap pecahan cangkir yang hancur berkeping-keping dengan perasaan bersalah. Ia segera memanggil pelayan untuk membersihkan, lalu bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku hanya mengangguk dan tersenyum kikuk. Ia menyodorkan selembar tisu untuk membersihkan tanganku, dan untuk pertama kalinya, jarinya menyentuh jemariku. Menyisakan sensasi lembut yang naik dan membiaskan rona merah muda di pipiku.

Sejak saat itu, aku selalu datang dan menulis di kedai kopi ini, sambil diam-diam menantikan hadirnya untuk sekedar duduk dan membeli secangkir kopi sebelum kembali ke rumahnya setelah lelah seharian bekerja. Mendengarkan celotehnya tentang teman, kesibukan, pekerjaan, atau harinya. Membiarkannya membaca setiap hasil karya dan cerita yang kupunya. Menikmati kopi hitamnya dengan nikmat, atau sekedar diam sambil bertatap mata. Ya, menyenangkan rasanya.

Terkadang, ia tidak mampir dan langsung pulang. Biasanya, di saat hari hujan. Ia hanya akan melewati kedai kopi ini sambil terburu-buru berlari, berjuang agar tetes hujan tidak membasahi tas kerjanya. Aku hanya akan memandangnya lewat jendela dari tempatku duduk, menelan rasa kecewa karena absen melihat senyum hangat dan mendengar cerita-ceritanya.

Ia… entah sejak kapan, mampu mewarnai hari dan membangkitkan rasa di sudut hati. Rasa yang kemudian hinggap dan bertahan. Bertumbuh dalam setitik harapan. Mencari waktu untuk memenuhi seluruh ruang pikiran dan perasaan. Entah kenapa, menunggunya pulang menjadi hal yang mendebarkan, sekaligus menyenangkan. Ia hadir, menjadi inspirasi cerita, mimpi di saat kantuk menyapa, dan imajinasi indah yang menari indah di kepala.

Aku cepat-cepat menunduk, takut pipiku mulai bersemu. Terburu-buru, aku meraih dan menyesap tehku. Kaget karena cairan mendidih yang tiba-tiba menyapa tenggorokan, hampir saja membuat cangkir meluncur turun dari tanganku.

“Kamu nggak apa-apa? Panas ya?” tanyanya.

Aku menggeleng. Kemudian tersenyum kecil, menertawakan kebodohanku. Aku mendongak, menatap kedua bola matanya yang teduh. Sebentuk wajah yang sedang tersenyum hangat padaku. Tiba-tiba saja… ada dorongan yang menggila dalam diam untuk menyatakan rasa yang sedang memenuhi hati. Ada harapan yang kuat agar ia selalu di sini. Ada keinginan yang hebat untuk memilikinya, hanya untuk diriku sendiri.

Aku mengambil selembar tisu. Sementara konsentrasinya masih tumpah pada monitor laprop di hadapannya, aku menulis kalimat sederhana, ungkapan universal untuk siapa saja, namun artinya merepresentasikan bahwa ia berbeda, dan betapa ia istimewa.
“Saya sa…”
Angin dingin kembali membelai halus kulitku, tanda pintu masuk dibuka dan ada seorang tamu lagi yang datang untuk menikmati secangkir kopi, atau sekedar duduk untuk menunggu. Serentak, aku dan dia menoleh ke arah pintu. Perempuan muda, berbalut casual blazer dan rok sepan melangkah masuk dengan anggun. Kemudian menghampiri ia yang berada di hadapanku, dan mengecup bibirnya tanpa malu-malu.
“..yang…”
Ia ada, namun hanya sebatas pada pandangan mata. Ia yang terlalu jauh untuk digapai, sehingga harapan ini hanya akan jadi mimpi yang tak akan pernah usai. Ia yang pada akhirnya hanya dapat kuamati, tanpa pernah ada kesempatan untuk memiliki. Ia yang tak akan pernah bisa kurekuh, namun terlambat untuk menarik diri dan tidak jatuh. Ia yang sampai kapanpun adalah penikmat kopi, sedang aku seorang pecinta teh yang salah tempat menepi. Ia, pemilik senyum hangat, yang hanya pantas bersanding dengan seorang wanita sehat.

Aku meremas pelan tisu yang sedang kupegang. Kubiarkan kalimat itu selamanya tidak sempurna terungkap, serta tidak akan pernah terucap. Kutinggalkan kalimat itu terpenggal tak selesai, pertanda harapanku memang harus usai. Aku hanya diam, saat rasa yang membanjiri belakangan ini, diganti kesesakan yang menggumpal memenuhi hati.

Kembali aku menyesap tehku. Kali ini membiarkannya membakar kerongkongan, untuk mengalahkan panas yang mulai terasa di sepasang mata yang sedang mengawasi pria yang kucintai dalam hati, melangkah, menjauh pergi.

***

“Boleh duduk di sini menemanimu? Aku Rio.”

Aku diam sejenak, kemudian mengangguk, menyodorkan selembar tisu untuk membalas perkenalan dirinya.

Tertulis di sana, “Tentu, aku Nabila.”

Kemudian tak sengaja, aku menyenggol cangkir tehku.

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s