Cerpen · Fiksi · My Imagination

Jatuh Cinta itu… Bodoh?

Bodoh!

Entah dengan alasan apa, aku menjadikan kata itu sebagai ungkapan favoriteku. Aneh. Absurd. Di luar nalar.

Bodoh!

Aku mengulang kata itu kesekian kalinya dalam hati. Setengah memaki.

Dan nyatanya aku memang terlalu bodoh. Sejak pagi aku duduk di kedai kopi tempat ia biasa menghabiskan waktunya untuk sekedar merampungkan skripsi akhir-akhir ini. Ck! Lagi-lagi aku mentertawakan diriku sendiri. Mencemooh kebodohanku yang irrasional.

Bodoh!

Aku memainkan jariku di mug putih dengan logo berwarna hijau di sisinya. Memandangi lapisan krim yang sudah tidak berbentuk karena berkali-kali aku aduk.

Cappuccino grande em…aku lupa namanya.

Yah, sudah jelas, aku sama sekali tidak menyukai minuman yang diproduksi dari biji kopi ini. Kalau saja aku tidak mendengar salah satu pengunjung menyebutkan minuman ini di depan barista tadi mungkin aku akan berdiam diri selama beberapa jam di depan daftar minuman yang tergantung di sana.

Dan ia pasti akan mencelaku setengah mati karena sudah memesan minuman ini, terlebih lagi aku menambahkan entah berapa banyak gula ke dalamnya agar bisa sesuai dengan standarku. Aku sendiri bahkan tidak mengerti kenapa bisa berada di tempat ini dan memesan minuman yang pahitnya kurang ajar ini.

Ck!

Bodoh!

Aku kembali meraih ponselku di sebelah mug, kembali membuka daftar chatku dan membaca kembali apa yang aku tulis di sana lima belas menit yang lalu.

“Lo dimana? Gue bosen nih, nunggu nyokap nyalon. Kebetulan deket strbcks tempat lo. Ketemu di sana yuk!”

Ya Tuhan, aku bahkan berbohong. Hal bodoh yang mengatasnamakan orangtuaku sebagai alasan agar aku bisa bertemu dengannya. Aku bahkan sudah duduk di sini dan niat awalku adalah bertemu dengannya, bukan menemani orang tuaku.

Aku kembali menekuri gagang mugku, sudah empat puluh lima menit lebih berlalu sejak ia membalas pesanku, menyetujui untuk datang ke tempat ini. Berjanji untuk datang tak lama lagi.

Mengingat ia yang selalu mengemudi dengan kecepatan pembalap F1 seharusnya aku percaya bahwa ia akan datang tak lama lagi.

Bodoh!

Tiga puluh menit berlalu dan ia tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Apakah ia memang lebih lama dari biasanya atau aku yang terlalu berharap?

Berharap bahwa ia akan melakukan apapun—mengemudi gila-gilaan, berlari-lari kesetanan, bahkan menerjang hujan dan ombak—hanya untuk menemuiku. Pikiran idiot yang akan membuatku jadi sedikit lebih sinting lagi setelah ini.

Aku dan dia bukan siapa-siapa. Bahkan untuk menyebut status kami sebagai sahabat pun, aku meragu. Entah apa kami ini, aku tidak punya definisi yang tepat sekali.

Kami hanya kebetulan sekolah di tempat yang sama dan tanpa sengaja tinggal di kompleks yang sama. Sampai akhirnya, tanpa aku ingat kejadian persisnya, aku menjadi parasit di Ford yang dikendarainya. Dan ketika ritual-ritual antar-jemput itu berlalu pun, kami tidak pernah benar-benar saling meninggalkan.

Bodoh!

Aku menarik nafas dalam-dalam. Melempar pandang ke luar dinding kaca. Menatap langit biru yang nampak begitu lembut memesona, sementara minumanku sudah nyaris habis.

Cukup lama aku termangu. Menatap kosong ke arah sofa tekstil hijau yang tidak diduduki siapapun di depanku.

Bodoh!

Kali ini rasanya aku sudah memastikan. Aku memang bodoh.

Seharusnya, aku tidak boleh merindukannya.

Seharusnya, aku tidak datang ke tempat ini.

Sejenak aku mengamati isi ruangan di sekeliling. Bahkan kedai kopi yang tadinya sepi ini kini sudah mulai ramai. Bau harum kopi yang kental menguar di udara. Untuk alasan yang aneh, aku merasa agak berat untuk segera beranjak pergi. Meninggalkan tempat dudukku yang empuk di sudut ruangan. Spot yang baru kusadari amat sangat nyaman untuk melamun…dan menunggu.

Walaupun ternyata yang kutunggu tidak datang.

Aku kecewa.

Diam-diam, egoku terluka. Parah.

Lebih parahnya, aku tidak tahu bagaimana cara merajutnya kembali.

Padahal aku juga tahu kalau seharusnya sedari tadi aku mencoba menghubunginya. Memastikan keberadaannya. Memfinalkan rencana kehadirannya.

Tetapi seperti biasa, aku tidak mau menurunkan harga diri. Bertahan meski dengan perasaan tak menentu. Bertahan meski itu berarti aku telah mengakui keangkuhanku yang menjengkelkan setengah mati.

“Ah bodoh!” aku merutuk sembari menjejalkan sebuah novel roman yang turut menemani penantianku yang tak jelas. Bersiap-siap beranjak. Memutuskan untuk pergi.

Semakin lama aku di sini, aku akan semakin tak logis. Semakin sinting. Semakin absurd.

“Siapa yang bodoh?”

Aku nyaris terlonjak. Sosok itu mendadak berdiri di hadapanku. Dengan t-shirt putih, denim pants, dan keringat menetes-netes dari pelipisnya dan dahinya. Terlihat lelah dengan tarikan nafasnya yang pendek-pendek dan cepat.

Sejenak aku terpaku. Silently, hatiku bersorak-sorai.

Ia datang.

Iya! Ia datang!

“Kenapa lo?” aku meletakkan lagi quilt bag-ku di atas sofa. Sungguh-sungguh mengurungkan niat untuk pergi.

“Hey! Sejak kapan lo minum kopi?” Tawanya meledak. Menunjuk-nunjuk gelas mug-ku yang sudah kosong dan memegang perutnya geli sementara ia mengabaikan pertanyaanku.

“Emangnya nggak boleh?”

Ia hanya tertawa dan menggelengkan kepala. Sambil mengusap keringatnya, ia duduk. Memandangku dengan sorot mata seolah takjub. Susah payah aku berusaha agar tidak terlihat blushing dan salah tingkah.

“Maaf, ya…” Ia berujar. Nyengir. “Dua setengah jam. Gue pikir lo udah nggak ada di sini lagi. Hehe.”

“Untungnya gue masih sekalian nungguin Nyokap. Kalo nggak, gue udah cabut kali dari tadi. Lagian elo! Lama amat sih?” kilahku sambil mengalihkan pandangan, menutupi kebohongan yang sudah kubuat dari awal. Memang benar kata orang, satu kebohongan dapat menimbulkan kebohongan-kebohongan yang lainnya.

“Sorry, ban mobil gue kempes di tengah jalan. Gue mau ngehubungin lo, handphone gue mati pula. Buru-buru deh gue pulang dan bela-belain naik motor ke sini. Tambah lama karena nggak bisa lewat jalan tol. Udah ngebut-ngebutan dari rumah pun percuma gara-gara macet.”

Sebentar aku tak menyahut. Sebegitu inginnya kah ia bertemu denganku—juga? Aku malah jadi tidak berani memikirkannya. Lebih tepatnya aku takut memikirkannya.

Bagaimana kalau jawabannya tidak?

Bagaimana kalau ia datang hanya karena ia merasa tidak enak padaku?

Ah, sudahlah. Yang terpenting kini ia sudah ada di hadapanku.

Di tempat ini, orang-orang datang dan pergi. Tetapi aku—sekarang dengannya—masih saja di sini meskipun aku tidak terlalu peduli. Bagiku, ia datang, sudah cukup. Aku tidak mau memikirkan yang lain. Diam-diam, aku tersenyum.

Sekilas, aku menangkap senyuman itu juga di wajahnya.

Bodoh!

So, satu cappuccino lagi?” Ia bertanya. Menaikkan sebelah alisnya menggodaku.

Aku tertawa.

Make it green tea latte, now,” sahutku.

Okay, miss!” Ia ikut tertawa.

Dan jika jatuh cinta dikategorikan sebagai perbuatan bodoh, silakan sebut aku bodoh lagi.

Karena sejak detik itu, aku sudah tahu jika aku juga memang jatuh cinta…lagi.

–END–

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s