Cerpen · Fiksi · My Imagination

Akhir

Mungkin sebenarnya kita tidak perlu memecahkan keheningan itu. Karena setelah berusaha keras meruntuhkan tembok hati masing-masing untuk bicara, yang kita dapatkan hanya sesuatu yang lebih mencekam daripada keheningan di sore hari yang sesungguhnya hangat ini.

Aku lelah, kau tahu.

“Gue mungkin nggak tau kita akan berakhir kayak apa…” Kau berkata sambil menggenggam roda kemudi erat-erat seakan kendaraan ini sedang melaju. Padahal sebenarnya tak bergerak.

Layaknya kita–kau dan aku–tak bergerak. Diam.

“Tapi gue berharap, kita bisa bahagia…”

Bersama…

“…di jalan kita sendiri-sendiri.”

Kau melempar pandang jauh-jauh. Dan aku mengigit bibirku menahan tangis yang hampir pecah.

Entah kapan episode singkat ini akan berakhir.

Kupalingkan wajahku melihat ke arahmu, menahan segenap rasa sakit yang menekan ulu hatiku, “Bisa antar gue pulang?”

Dan hanya itu yang bisa kukatakan. Karena tentu saja, kau sudah mengakhiri lebih dahulu, maka sekarang aku yang melakukannya.

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s