Cerpen · Fiksi · My Imagination

Eyes, Nose, Lips

Patah tangan masih lebih baik daripada patah hati.

Bagi seorang pitcher, patah hati tidak akan pernah sebanding dengan patah tangan.

Tidak ada julukan pitcher jika tanganmu tidak bisa kau gunakan. Tidak ada yang bisa menggantikan tanganmu yang patah, tapi saat patah hati, kau bahkan bisa mencari seribu wanita lain sebagai penggantinya. Jadi, jika membandingkannya dengan patah hati, rasanya terlalu berlebihan.

Tentu saja aku tertawa keras mendengar bualan Ferdi yang dengan mudahnya membuat perbandingan seperti itu, setidaknya ia juga seorang pitcher sama sepertiku dan ia berkata seperti itu hanya karena pacarnya memutuskannya.

Lagian tidak sepantasnya kami kaum pria meletakkan harga dirinya jauh di bawah hak sepatu wanita.

Aku akui Rani memang gadis paling cantik di sekolahku saat itu, tapi bukan berarti ketika gadis itu memilih untuk mengakhiri hubungan mereka dan mencari lelaki lain, hidupnya akan hancur.

Masih banyak gadis-gadis di luar sana yang dengan mudahnya bisa diajak kencan, banyak gadis yang dengan mudahnya menyerahkan diri mereka untuk seorang lelaki, bahkan yang ada memberikannya secara cuma-cuma. Selama ini aku mendapatkan itu dari beberapa gadis. Itulah yang membuatku mengabaikan mereka dan menjadikan mereka lelucon semata.

Sampai aku mengalaminya sendiri, dan julukan pitcher bukan lagi untukku.

“Jadi hubungan kalian berakhir? Aku kira ada yang bisa kuharapkan dari gadis itu, terlebih kau membawanya kemari,” komentar Ron ketika aku menceritakan aku baru saja putus dengan Andin.

Gadis itu cukup menarik, tingkahnya yang polos dan kelakuannya yang seperti anak kecil membuatku ingin melindunginya. Ia juga bisa berpikir dewasa walau terkadang sifat kekanakannya yang mendominasi, tapi gadis remaja memang sewajarnya seperti itu.

Namun, gadis itu cukup membuatku kalang kabut ketika hubungan kami berakhir. Kuakui, gadis itu gadis pertama yang kuberikan status jelas. Berpacaran. Setidaknya aku tidak pernah memberikan status itu pada orang lain, karena sejak dulu aku merasa bahwa status semacam itu selalu membuat rumit.

Ternyata tidak.

Aku bahkan ketagihan.

Gadis itu seakan candu untukku. Beberapa kali aku mengabaikannya, beberapa kali aku berusaha tidak mengacuhkanya, tapi ia datang kembali dengan wajah sedihnya yang membuatku tidak tahan untuk memeluknya, membaui wangi rambutnya, menghapus air mata yang keluar dari mata indahnya, mengecup ujung bibirnya dan mengulumnya.

Ah! Bibir gadis itu selalu terasa lebih manis setiap kali aku mencicipinya.

Dan pagi itu, ketika kami sama-sama terbangun di sofa rumahnya, tulisan-tulisan tangannya di note yang ia letakkan di meja membuatku tersenyum. Kami saling membalas pesan dengan tinta dan kertas yang sama, dengan deretan kalimat panjang tenang rindu sampai berakhir pada ajakan sederhana…

“Pacaran lagi yuk!”

“Siapa takut”

…aku bisa mendapatkannya kembali. Gadis yang menjadi canduku.

Candu yang membuatku buta, menutup mata, menaruh harap besar dan kepercayaan di atas pundaknya. Sampai aku tahu, bahwa tidak selamanya gadis manis sepertinya akan seterusnya manis. Bahwa seorang gadis polos dan kekanakan bisa dengan mudah memainkan pisau di tangannya dan menyayat orang disekelilingnya tanpa mengetahui apa yang dirasakan orang tersebut.

Aku tidak pernah menolerir perselingkuhan, tidak selama ayahku masih hidup dengan wanita yang membuat hidup ibuku berantakan. Jadi, aku tidak akan menolerir apa yang dilakukannya. Mencium seorang lelaki yang aku kenal sebagai juniorku.

Gila!

Kepolosannya hanya sebagai topeng belaka. Sama seperti yang dilakukan gadis-gadis lain, sama seperti wanita yang menggoda ayahku.

Setelah mengotori tanganku untuk memukul lelaki itu, kakiku perlahan menjauh, tidak memedulikan rintihan gadis itu, tidak ingin mendengar apapun yang dikatakannya. Apapun.

Aku menutup indera pendengaranku.

Dan meneruskan langkahku.

Tak pernah kuduga langkah yang kuambil bisa begitu berat. Sisa kekuatanku seakan terkuras saat kugunakan untuk menghantam wajah lelaki itu. Seorang lelaki yang mencium gadisku.

Pisau itu terlalu tajam menusuk dadaku, merasuk bersama dingin yang kini memelukku yang bekunya menelusup melewati celah-celah persendian dasar hatiku. Menorehkan linu yang luar biasa.

Aku limbung.

Mencoba bertumpu, tapi tanganku sendiri menolak tumpuanku. Kakiku bahkan sudah menyerah lebih dulu. Semuanya terasa kebas. Kenangan itu kembali terlintas dalam kepalaku.

Because your eyes

Matanya.

Nose

Hidungnya.

Lips

Bibirnya.

Every look and every breath, every kiss
Still got me dyin’
Still got me cryin’

Candu yang selama ini mengikatku itu membuatku sekarat.

Jadi, Patah tangan masih lebih baik daripada patah hati.

Bagi seorang mantan pitcher, kalimat itu tidak lagi terdengar berlebihan. Dan aku memang sudah diperbudak perasaan dan jatuh terlalu dalam.

Patah tangan? Jangan becanda.

Sekarang aku berada di titik dimana aku berpikir ‘rasanya ingin mati saja’.

You wish me well
You wish me well,
I wish you hell…
(Eyes, Nose, Lips – Tablo Cover)

–End–

4 thoughts on “Eyes, Nose, Lips

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s