Cerpen · Fiksi · My Imagination

Yang Kubenci

Kau tahu?

Selain menyetrika, menunggu adalah pekerjaan yang kubenci. Kini aku sedang duduk di salah satu kursi sebuah cafe dekat kantorku. Sudah dua gelas green tea kuhabiskan sejak sampai di tempat ini, tepatnya sejak jalanan jakarta sedang tidak bersahabat padahal ufuk barat sedang menampilkan karya terindahnya. Namun, dia belum juga menunjukkan tanda-tanda kehadiran.

Kuberitahu satu hal lagi, selain menyetrika dan menunggu, masa lalu adalah hal ketiga yang kubenci. Mungkin berlebihan jika aku menyandingkannya dengan kebencian, tetapi tak ada kata yang tepat lagi untuk menggambarkan masa lalu. Penyesalankah? Aku bahkan tidak menyukai penyesalan, pasalnya penyesalan adalah akar dari sesuatu yang tak berguna, sesuatu yang membuat kita menyerah. Membuat kita putus asa.

Sedangkan aku, tak putus asa dengan masa laluku.

Aku hanya lelah… menunggu… nya.

“Maaf, Nay. Aku kejebak macet. Kalau kamu mau nunggu mungkin satu jam lagi aku sampai. Tapi kalau tidak, kau pulang saja.”

Masih sama. Ia tidak pernah menentukan pilihan, ia selalu memberikan dua pilihan pada orang lain, sedangkan dirinya hanya mengikuti pilihan itu. Tanpa penolakan, tanpa keluhan. Itu yang kubenci darinya, itu juga yang membuatku tak pernah bisa memilikinya dan membuatnya menjadi milik orang lain atas keinginan orang tuanya, tapi rasa benci itu tidak pernah menutupi rasa cintaku yang tanpa kusadari sangat besar untuknya.

Tak ingin memberikan ia kesempatan lagi, jariku dengan cepat berlari di ponsel. Kuberitahu ia bahwa aku memilih untuk pulang saja, aku tak ingin bertemu dengannya sekarang, setidaknya tidak dengan diriku yang baru saja memikirkan masa lalu kami.

Suara langkah kaki dan colekan kecil di bahu mau tak mau membuatku menoleh, menghentikan berbagai lamunanku. Kulihat seorang laki-laki berkaos putih yang tak kukenal itu melempar senyum padaku.

“Boleh aku duduk di sini?” tanyanya, membuat mulutku yang tadinya terkunci karena senyumannya yang begitu saja membuat hangat wajahku mengeluarkan suara.

“Oh. Silahkan”

Laki-laki itu pun duduk setelah meletakkan gelasnya yang kini bertegur sapa dengan gelas sisa green tea milikku.

Selain ketiga hal tadi, ada lagi yang paling kubenci. Aku sangat mudah dibuat jatuh cinta tetapi sangat sulit untuk melupakan.

Dan rasanya, aku jatuh cinta pada orang di depanku ini…

…masalahnya apa dia akan jadi masa lalu yang akan kubenci nantinya?

disela-sela kerja 21 Sept ’15 1:24 AM

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s