Cerpen · Fiksi · My Imagination

Decision to Fall

“Kalau patah hati saja mudah, mengapa jatuh cinta lagi begitu sulit?”

Pertanyaan Nuri membuat pandanganku beralih. Sejak tadi, aku mengalihkan perhatianku pada pejalan kaki yang melewati kafe. Kudapati Nuri kembali meneruskan pandangan pada laptop di hadapannya.

Beberapa jam lalu, aku lupa kalau aku sedang patah hati. Kini, perasaan itu mengusik hatiku lagi. Aku teringat ketika pagi tadi mengecek jejaring sosialku dan mendapati foto Rai bersama dengan seorang wanita disertai dengan emoticon hati di captionnya.

Pupus sudah bertahun-tahun usaha, niat dan doaku. Dulu kami hampir dekat sampai suatu hari ia berkata bahwa ia tidak bisa menjalin hubungan denganku—entah apa maksudnya. Namun kami berdua masih berteman baik, saling bertanya kabar dengan sopan sesekali. Saling menelepon di hari ulang tahun masing-masing. Dan aku, menunggu kapan lagi aku bisa menyelinap masuk dalam hatinya.

Setelah berbulan-bulan ia mengatakan itu aku baru mengetahui kalau yang ia sukai adalah sahabatku. Ia mempunyai masalah dengan dengan sahabatku karena sahabatku itu memilih pria lain. Sampai akhirnya mereka tidak lagi bicara satu sama lain. Maka, mungkin dari itu ia memilih untuk mundur dan menjaga jarak dariku juga.

Miris ya.

“Setidaknya kau bersyukur, dikasih tahu kapan saatnya berhenti,” seloroh Nuri. “Ada banyak orang yang tidak tahu kapan mereka harus berhenti mencintai seseorang yang tidak mengharapkannya. Itu jauh lebih menyiksa.”

Aku membisu, kuangkat cangkir teh hijauku dan menyesapnya sedikit demi sedikit.

“Anggap saja itu sebagai pujian kalau kau bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik darinya,” Nuri menoleh ke arahku. “Walau kutahu pada kenyataannya, tidak mudah menerima kalimat sederhana itu.”

Aku tersenyum kecil. Kuhela napas panjang. Pandanganku kembali kepada orang yang lalu lalang di depan kafe. Sebanyak orang di depanku, mengapa untuk jatuh cinta lagi begitu sulit?

“Kupikir ini semua mudah, tetapi ketakutanku untuk menyakiti orang lain. Itu yang tidak mudah untuk buatku jatuh cinta lagi,” renungku setelah mengurai pengalaman yang kualami.

“Cinta sebelah tangan cuma menyakiti diri sendiri, Na” koreksi Nuri. “Itu yang sedang menimpamu.”

“Yah… mungkin seperti itu. Mungkin seharusnya aku senang karena orang sebaik Rai pada akhirnya bisa menemukan cinta yang diinginkannya. Dia pantas mendapatkannya. Dia pantas bahagia,” kataku dengan pandangan menerawang.

“Semua orang berhak bahagia. Kamu juga. Dia tidak berhak menghalangimu untuk bahagia.”

Aku mengembuskan napas panjang. Menatap ke langit sore. Kukira, Rai juga tidak akan tahu bahwa aku sesedih ini mengetahui fakta itu. Setiap satu orang jatuh cinta, maka ada orang lain yang patah hati. Ia tak perlu tahu aku patah hati. Aku masih memilikinya sebagai teman dan mulai saat ini aku bisa mencari orang lain. Seseorang yang berani membuatku jatuh cinta.

One thought on “Decision to Fall

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s