30HariMenulisSuratCinta

Hujan Kembali Datang, Sayang

Hai (sayang),
Hari ini hujan kembali datang.
Tahukah kamu apa yang kuingat saat hujan datang?

Kamu yang datang dengan payung kuningmu dan mengulurkannya padaku.
Senyummu yang tersungging di sudut bibir sebelah kananmu ketika aku bertanya “apa yang kamu lakukan di sini?”
Tangan hangatmu yang menggenggam tanganku saat kita berteduh, menunggu bis yang menuju arah rumahku.
Dekapanmu yang erat menggiringku sampai ke tempat yang aman untuk berteduh, bahkan tetap melakukannya sampai rasa dingin itu tak terasa karena kau berada di dekatmu adalah tempat terhangatku.

Kebersamaan kita, kehangatan dekapanmu yang kuingat ketika rintik hujan pertama datang. Tetapi kau tahu kan (sayang), bahwa yang kita lalui bukan hanya kehangatan, ada juga rasa dingin yang menusuk bahkan mencapai tulangku meski hujan sendiri tidak hadir saat itu.

Aku ingat ketika genggamanmu terlepas ketika pertanyaanku tak bisa kamu jawab.
“Siapa gadis yang akhir-akhir ini menghiasi ponselmu, gadis yang bukan aku?”
Bukannya menjawab, kamu malah mengambil jarak dariku.
Kamu marah, kamu murka. Kamu mencacik seolah aku yang salah, kamu mencari gadis lain karena aku yang tidak memperdulikanmu.

Tidak ada lagi kabar darimu, kamu menghilang tanpa memberiku kepastian. Kamu juga tidak mau menjawab panggilanku. Aku hanya bisa terdiam menyusun ingatan apakah yang aku lakukan ini adalah sebuah kesalahan. Membiarkanmu berkumpul dengan teman-temanku, membiarkanmu tetap menjalani kehidupanmu tanpa perlu menuntutmu untuk terus menghubungiku setiap jam sekali seperti yang dilakukan temanku dengan pasangannya.

Aku percaya bahwa dirimu akan menggenggam kepercayaanku, sama halnya dengan diriku yang selalu mempercayaimu. Tetapi layar ponselmu yang biasanya dihiasi oleh fotoku tiba-tiba saja berubah. Tidak bolehkah aku marah? Tetapi kenapa malah aku yang jadi sasaran kemarahanmu.

Sore itu, mendung menggantung di langit. Aku ingat dengan jelas di halte itu aku melihatmu. Bukan untuk menungguku hadir bersama dengan payung kuning yang biasa kamu bawa untuk menyambutku, melainkan menyambut gadis lain yang kuingat adalah adik kelasku.

Kamu ingat bukan kalau kita saling menatap saat itu, tetapi bukannya merasa bersalah kamu malah mengalihkan pandanganmu. Kamu membawa serta gadis itu bersama dengan punggungmu yang menjauhiku dan rintik hujan yang mulai membasahi tubuhku.

Dan kau pasti tahu kan (sayang), yang kuingat setelah itu. Hujan tidak lagi sehangat dulu.

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s